SURABAYA, NUSANTARAPOS – Pimpinan Pusat Syarikat Islam (PP SI) menggelar Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 di Surabaya, Jawa Timur, 17-20 Oktober 2026.
Kongres Nasional/Majelis Tahkim merupakan forum permusyawaratan tertinggi Syarikat Islam. Pada gelaran kali ini, kongres mengusung tema besar “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati”.
Dalam jadwal agenda panitia pada pembukaan kongres pada 18 Oktober 2026 di Jatim Expo Surabaya di rencanakan akan dihadiri oleh ribuan kaum Syarikat Islam.
Momentum ini mengingatkan pada peristiwa kongres pertama Syarikat Islam pada 26 Januari 1913 di surabaya yang mana dihadiri oleh ribuan kaum dan simpatisan SI yang menggetarkan pemerintahan Hindia Belanda waktu itu dimana agenda utama nya adalah memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan kaum Bumiputera, termasuk kemajuan perdagangan, ekonomi, pendidikan dan kehidupan keagamaan dengan kolaborasi tokoh sentralnya Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto. Kongres tersebut sukses mengonsolidasikan kekuatan massa Islam dari ranah perdagangan menuju pergerakan nasional yang lebih luas.
Dalam sambutannya pada acara Majelis Tahkim Khusus yang diselenggarakan 1 hari sebelum Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42, Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Hamdan Zoelva menyampaikan sejumlah refleksi setelah selama 10 tahun memimpin SI.
Menurutnya, paska kongres kali ini, SI perlu melakukan perubahan dalam model pengelolaan organisasi.
Hamdan mendorong agar SI meninggalkan pola pengelolaan yang menyerupai partai politik dan memperkuat model organisasi berbasis etika, keikhlasan, serta ketulusan dalam membangun organisasi.
“Mari tinjau ulang peraturan organisasi. Kita tinggalkan pola model partai politik dan fokus pada etik yang ikhlas, tulus membangun organisasi. SI hadir dalam politik menggulai yang memberikan rasa manis kepada siapa saja dengan fokus utama dakwah ekonomi,” ujar Hamdan di Surabaya, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Hamdan, struktur organisasi SI ke depan harus dibangun dengan prinsip bahwa struktur yang berada di atas bertugas melayani struktur di bawah, sekaligus memberikan teladan dan menjadi role model dalam pelaksanaan organisasi.
“Cara pandang organisasi sebagai organisasi keagamaan yang fokus pada dakwah ekonomi harus lebih longgar, bukan model hierarki seperti partai politik. SI tidak meninggalkan politik, namun politik yang berasaskan musyawarah sebagai hasil akhirnya,” tegas Hamdan.
Hamdan juga mengingatkan kembali asas SI yang disahkan dalam Kongres di Banjarnegara pada 1931 dan dirumuskan oleh HOS Tjokroaminoto. Menurutnya, gagasan tersebut menggambarkan tahapan menuju kemerdekaan sejati melalui persatuan umat dan masih relevan hingga saat ini.
Ia juga menyinggung pemikiran HOS Tjokroaminoto dalam buku Sosialisme Islam yang menawarkan jalan tengah di antara kapitalisme dan sosialisme-marxisme, yang pada masa itu pernah difatwakan haram oleh Syarikat Islam.
“Gagasan tersebut telah berlaku hingga saat ini, hampir 100 tahun,” pungkas Hamdan.
Sementara itu di kesempatan yang sama Ketua Panitia Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 Yudhi Irsyadi Syafi’i mengatakan, Panitia juga mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya sejumlah tokoh SI dalam perjalanan menuju lokasi Kongres antara lain Haji Mahmud Turuis Ketua Wilayah SI Sulawesi Utara dan Yaya Wahyudin Wasekjend Gerakan Tani Syarikat Islam yang juga Dewan Pertimbangan Pemuda Muslimin Indonesia.
“Semoga para almarhum di beri syafaat dan di ampuni semua dosa nya dan niat kehadiran nya di Kongres yang tak sampai di hitung sebagai pahala jihad fisabilillah, aamiin”, pungkasnya.


