BUDAYA  

Capaian Kinerja Polri 2025 Di Akui Dunia

JAKARTA, NUSANTARAPOS – Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GP Al-Washliyah), Aminullah Siagian, melontarkan pernyataan keras terhadap kelompok-kelompok yang dinilainya terus melakukan delegitimasi sistematis terhadap Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di tengah capaian kinerja dan tingkat kepercayaan publik yang justru menunjukkan tren positif.

Merespons paparan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terkait capaian kinerja Polri sepanjang 2025 berdasarkan survei internasional dan nasional, Aminullah menegaskan bahwa serangan terhadap Polri saat ini bukan lagi kritik konstruktif, melainkan sudah masuk wilayah politik pembusukan institusi negara.

“Kritik yang berbasis data itu sehat. Tapi delegitimasi yang membabi buta, menutup mata dari fakta objektif, dan sengaja membangun ketidakpercayaan publik—itu bukan aktivisme, itu sabotase terhadap negara,” tegas Aminullah, Selasa (30/12/2025).

Aminullah menegaskan bahwa hasil The Global Safety Report 2025 yang dirilis Gallup—menempatkan Indonesia pada peringkat 19 dari 144 negara dengan skor 89 pada Law and Order Index—adalah tamparan keras bagi mereka yang terus menggiring opini bahwa Indonesia berada dalam kondisi darurat keamanan.

Fakta bahwa 83 persen warga Indonesia merasa aman berjalan sendirian di malam hari dinilai Aminullah sebagai realitas sosial yang tidak bisa dipatahkan oleh propaganda politik.

“Rakyat merasakan aman, dunia mengakui, tapi ada segelintir elite yang terus berteriak seolah negara ini runtuh. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya sedang bermain api?” ujarnya.

Aminullah mengingatkan bahwa melemahkan kepercayaan terhadap aparat penegak hukum sama dengan melemahkan kedaulatan negara. Ia menilai upaya tersebut sering dibungkus dengan jargon demokrasi, padahal bermuatan kepentingan sempit.

“Tidak ada negara berdaulat yang membiarkan aparatnya dihancurkan oleh framing jahat. Demokrasi tanpa kepercayaan pada hukum akan berubah menjadi anarki,” kata Aminullah.

Ia juga mengaitkan stabilitas keamanan dengan posisi strategis Indonesia di dunia, merujuk survei Lowy Institute 2025 yang menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-5 negara paling berpengaruh di dunia dan nomor satu di ASEAN.

“Pengaruh global tidak lahir dari negara yang aparatnya tidak dipercaya. Dunia melihat Indonesia stabil, sementara sebagian pihak di dalam negeri justru sibuk meruntuhkan fondasinya,” tambahnya.

Aminullah menegaskan bahwa hasil Survei Litbang Kompas November 2025 yang menempatkan Polri sebagai lembaga penegak hukum paling dipercaya dengan tingkat kepercayaan 78,2 persen, adalah mandat politik dari rakyat yang wajib dihormati.

Ia juga menyoroti data bahwa 84,1 persen masyarakat percaya Polri mampu melindungi wilayahnya, serta mayoritas publik merasa lebih terlindungi, bukan terintimidasi, oleh kehadiran aparat.

“Siapa pun yang mengabaikan suara mayoritas rakyat dan menggantinya dengan narasi kebencian, sejatinya sedang berhadapan dengan kehendak publik itu sendiri,” tegas Aminullah.

Aminullah meminta negara tidak bersikap permisif terhadap upaya pembusukan institusi penegak hukum.

“Negara tidak boleh kalah oleh teriakan segelintir orang. Kritik silakan, tapi jika sudah mengarah pada delegitimasi sistematis, negara wajib hadir dan tegas,” ujarnya.

Meski demikian, Aminullah menegaskan bahwa dukungan GP Al-Washliyah terhadap Polri tetap bersifat kritis dan bermoral, bukan pembenaran tanpa batas.

“Kami mendukung Polri yang profesional, berintegritas, dan berpihak pada keadilan. Tapi kami juga akan berdiri paling depan membela institusi negara dari upaya penghancuran kepercayaan publik,” katanya.

Aminullah menegaskan posisi ideologis GP Al-Washliyah sebagai kekuatan pemuda Islam yang berdiri di garis depan menjaga negara.

 

“Pemuda tidak boleh netral ketika negara diserang dari dalam. GP Al-Washliyah memilih berpihak pada keutuhan negara, konstitusi, dan institusi yang bekerja untuk rakyat.”, pungkasnya.