Jakarta, Nusantarapos – Putera Sampoerna Foundation (PSF) memperingati Hari Pendidikan Nasional sekaligus 25 tahun perjalanannya berkontribusi untuk pendidikan Indonesia melalui penyelenggaraan PSF Education Summit: Transforming Lives, Shaping the Future.
Rangkaian dibuka dengan sesi Workshop Strategi Pembelajaran “Kolaborasi dan Visualisasi Pembelajaran di Era Digital” oleh salah satu fasilitator PSF, Putri Fitria Joko, yang menghadirkan pendekatan praktis bagi para guru dalam memanfaatkan teknologi pendidikan untuk menciptakan proses belajar mengajar yang lebih kolaboratif, visual, dan berdampak.
Kebutuhan untuk membekali guru dengan keterampilan teknologi pendidikan semakin penting seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan data BPS 2025, sebanyak 83,80% pelajar Indonesia telah menggunakan internet dan 85,78% menggunakan telepon seluler sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, menunjukkan bahwa teknologi digital kini semakin dekat dengan proses belajar generasi muda Indonesia. Seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam pendidikan, tantangan utama saat ini tidak lagi sebatas akses, melainkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kolaboratif, dan berdampak bagi siswa.
Hal ini turut menjadi perhatian Kepala Seksi Pendidik Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Juwarto, yang dalam sambutannya menyampaikan, “Saat ini, kita dihadapkan dengan satu hal yang luar biasa, yaitu kecerdasan buatan (AI). Meski dari segi pengetahuan sudah digantikan oleh AI, guru tetap menjadi kunci utama. Bukan hanya sekadar menyampaikan pengetahuan kepada siswa-siswi saja, tapi juga melatih serta membimbing mereka dengan sepenuh hati agar mereka bisa memiliki role model yang baik bahkan menjadi generasi unggul di masa depan,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Workshop yang digelar sebagai sesi pembuka PSF Education Summit ini mengangkat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa sebagai inti dari transformasi kelas di era digital. Dipandu oleh salah satu fasilitator PSF, Putri Fitria Joko yang berpengalaman mendampingi sekolah binaan PSF yang tersebar dari Kutai Barat hingga Manggarai Barat, sesi ini membahas dua pendekatan utama, yakni cooperative learning dan graphic organizer yang diintegrasikan dengan platform kolaborasi digital. Melalui berbagai metode seperti Think Pair Share, Round Robin Brainstorming, hingga Fishbowl, para guru diajak untuk mempraktikkan langsung strategi kolaborasi di kelas yang mendorong setiap siswa bukan hanya menerima informasi, melainkan berpartisipasi aktif.
Selain itu, workshop ini juga memperkenalkan pemanfaatan graphic organizer digital. Mulai dari Y-Chart, Diagram 4 Kotak, hingga Fishbone sebagai alat bantu visualisasi yang memudahkan siswa mengorganisasi informasi dan mengembangkan pemikiran kritis mereka.
Lebih dari sekadar mengenalkan metode pembelajaran digital kepada para guru, workshop ini menekankan pentingnya pembelajaran aktif yang berfokus pada bagaimana siswa belajar, bukan hanya apa yang mereka pelajari. Melalui penerapan strategi cooperative learning yang dipadukan dengan visualisasi digital, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang lebih partisipatif, di mana setiap siswa merasa dilibatkan, didengar, dan memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal.
Juliana, Head of Program & GuruBinar PSF-SDO, menegaskan bahwa penguatan kapasitas guru merupakan salah satu upaya transformasi pendidikan yang PSF lakukan. “Pendekatan kami dimulai dari membangun kesadaran guru sebagai agen perubahan. Saat pembelajaran berpusat pada siswa, siswa akan tumbuh menjadi pembelajar yang mandiri, kritis, dan kolaboratif. Workshop ini menjadi wujud nyata komitmen kami untuk mendorong perubahan pendidikan melalui penguatan kapasitas guru dalam berkolaborasi, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi, sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh siswa di berbagai pelosok Indonesia,” jelas Juliana.
Dampak dari workshop ini pun dirasakan langsung oleh para peserta, terutama dalam mendorong cara pandang baru terhadap proses belajar mengajar di kelas. Tidak hanya menghadirkan wawasan mengenai metode pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa saat ini, pelatihan ini juga menjadi ruang bagi para guru untuk berefleksi, berbagi pengalaman, dan memperkuat semangat untuk terus berkembang sebagai pendidik. Hal tersebut disampaikan oleh Rauda Alia (Guru SD Insan Kamil Bogor), salah satu peserta workshop, yang mengaku mendapatkan banyak inspirasi baru dari materi dan sesi diskusi yang berlangsung selama kegiatan.
“Workshop ini sangat membuka wawasan saya tentang pentingnya menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, relevan, dan berpihak pada kebutuhan anak-anak di era sekarang. Materi dan sharing yang disampaikan memberikan semangat baru bagi saya untuk menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan di kelas, sekaligus memotivasi saya untuk terus berkembang sebagai pendidik. Ke depannya, saya berharap berbagai insight yang didapat, seperti penerapan collaborative learning, penguatan critical thinking siswa, serta penggunaan media pembelajaran yang lebih dekat dengan keseharian anak, dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar,” ungkap Rauda.
Selama 25 tahun, PSF meyakini bahwa investasi pada pendidik merupakan langkah penting untuk menciptakan perubahan pendidikan yang berkelanjutan. Melalui berbagai program pengembangan guru yang telah menjangkau lebih dari 34 provinsi di Indonesia, PSF terus memperluas dampaknya, dari sekolah di perkotaan hingga daerah dengan keterbatasan akses, guna mendorong pengalaman belajar yang lebih inklusif, relevan, dan berdampak bagi generasi masa depan Indonesia.

