MAGELANG – Bawaslu Kabupaten Magelang resmi menggelar Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) 2026 di Ruang Bina Karya, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Magelang, Selasa (9/6/2026). Dengan tema “Berfungsi dan Bergerak untuk Pemilu dan Pemilihan 2029 yang Bermartabat”, kegiatan ini menggandeng Gerakan Pramuka Saka Adhyasta Pemilu untuk mencetak kader pengawas yang militan dan berkarakter.
Pelatihan diikuti 40 siswa-siswi berprestasi delegasi dari empat SMA di Kabupaten Magelang: SMAN 1 Kota Mungkid, SMAN 1 Ngablak, SMAN 1 Muntilan, dan SMA Muhammadiyah Salaman. Masing-masing sekolah mengirim 10 perwakilan.
Kepala Sekretariat Bawaslu Kabupaten Magelang, Bambang Agus Setiyawan, menyebut kegiatan ini merujuk pada Surat Ketua Bawaslu RI Nomor B-375/PM.04/K1/08/2025 dan dibiayai APBN 2026.
“Tujuan utama P2P adalah mewujudkan kemandirian lembaga pengawas pemilu dalam pengawasan partisipatif, meningkatkan keterampilan teknis anggota Pramuka dalam mengawasi tahapan pemilu, serta menguatkan pembinaan karakter dan wawasan kepemiluan. Kami ingin membentuk SDM pengawas partisipatif yang militan dan siap menjaga integritas pemilu,” ujar Bambang.
Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang Muhammad Habib Saleh menegaskan P2P merupakan transformasi dari program Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) yang berjalan sejak pandemi Covid-19. Hingga kini SKPP telah melahirkan ratusan alumni di Magelang yang aktif di Simpul Pengawasan melalui diskusi dan podcast.
“Adik-adik kader pengawas partisipatif tidak boleh hanya datang, menyimak materi, lalu pulang membawa sertifikat. Itu tidak cukup. Kami harapkan kalian menjadi anak-anak yang terlatih, terbentuk, berfungsi, dan memberikan dampak nyata kepada publik,” tegas Habib Saleh.
Ia mengapresiasi daya kritis peserta yang mampu menganalisis teknik pengawasan konseptual dan menyandingkannya dengan kondisi lapangan. Ke depan, Bawaslu Magelang akan menyusun kurikulum pembelajaran rutin di kantor Bawaslu dan memberikan pembekalan soft skill berupa pembuatan konten positif dan teknik menulis berita.
Koordinator Divisi Pencegahan dan Partisipasi Masyarakat Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Nur Kholiq, yang membuka acara, menekankan peran strategis pemuda dalam sejarah Indonesia. Ia menyebut pemilu sebagai instrumen resmi perubahan sosial.
Data 2025 menunjukkan jumlah pemilih di Jawa Tengah mencapai 29,7 juta jiwa, dengan hampir 50 persen di antaranya pemilih pemula dari kalangan generasi muda. Karena itu, sasaran P2P di Jateng difokuskan pada anggota Pramuka yang memiliki modal dasar jiwa kerelawanan, kemandirian, dan komitmen Dasa Darma.
“Merujuk filosofi Ruang Bina Karya, karya berarti bekerja dan bina berarti membina. Hari ini, tepat pada Hari Arsip Internasional 9 Juni, apa yang Adik-adik kerjakan adalah menuliskan arsip kehidupan bagi diri sendiri, sekaligus mengukir arsip emas bagi perkembangan demokrasi serta Gerakan Pramuka di Kabupaten Magelang,” ungkap Nur Kholiq.
Ia mengingatkan persiapan Pemilu 2029 sudah dimulai sejak 2027 melalui alokasi anggaran APBN. Alumni P2P akan mendapat sertifikat resmi dan terintegrasi sebagai bagian dari keluarga besar Bawaslu Kabupaten Magelang.
