Prihatin Dengan Akhlak Generasi Muda, Solidaritas Santri Nusantara Hadir Untuk Menjaga Norma

Jakarta, NUSANTARAPOS – Pasca runtuhnya orde baru (orba) 28 tahun lalu membawa perubahan yang luar biasa bagi tata kelola negara yang kita cintai bersama ini. Yang paling terlihat adalah adanya reformasi di pemerintahan, TNI dan Polri, dimana yang tadi tersentralisasi menjadi desentralisasi dengan adanya pilkada dan pilpres yang dipilih secara langsung.

“Namun alih-alih menuju pemerintahan yang demokrasi justru bangsa ini mulai kehilangan jati dirinya. Yang dulunya Indonesia penuh dengan kedamaian,  kerukunan dan saling menghargai sekarang ini kita mulai kehilangan norma-norma dalam berbudaya, bangsa dan agama,” demikian dikatakan Dewan Pembina Santri  H. Dody Ira Kusuma Jaya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6/2026).

Dody menjelaskan dengan perubahan yang ada, kita tidak ingin norma-norma tersebut hilang dan hanya tinggal cerita mengingat bangsa ini adalah bangsa yang besar maka sebagai anak-anak santri ingin menjunjung tinggi norma agama Islam yang kita miliki.

“Bagaimana cara menjaga norma tersebut? Adalah dengan menghormati para kiai, ulama ataupun presiden sebagai sebuah pemimpin negara yang telah dipilih secara langsung berkat adanya reformasi. Kita sebagai anak santri harus saling menjujung hak tersebut untuk menciptakan suasana yang aman dan kondusif,” ujarnya.

Lebih lanjut Dody mengatakan meskipun saat ini banyak anak-anak muda yang ingin mengambil peran di dunia politik bangsa ini silahkan saja tetapi jangan gunakan melalui cara-cara yang kotor.

“Jika ingin merebut kekuasaan maka harus dengan cara yang demokratis, karena kita anak santri yang dilahirkan di pondok pesantren sangat prihatin melihat kondisi bangsa ini,” ucapnya.

Sementara itu Gus Ali Mahsun di Pondok Pesantren Ibnu Sina Genteng Banyuwangi menjelaskan untuk tetapi menjaga norma-norma ke Indonesia, kita akan membuat gerakan para santri dengan wadah “Solidaritas Santri Nusantara”.

“Dalam wadah ini kita ingin mengajak mantan Presiden ke-7 Bapak Ir. Joko Widodo, karena sebagai orang yang telah memimpin bangsa ini selama 1 dekade selalu mengajarkan budaya bangsa dan agama Islam yang kita percayai dan kita anut,” katanya.

Gus Ali menyatakan jika melihat gaya politik mahasiswa sekarang ini, kita sebagai anak santri merasa miris dimana kata caci maki dilontarkan kepada pemimpin bangsa ini. Dalam wadah tersebut nanti kita akan intens berkomunikasi dengan para guru dan ulama untuk bisa memberikan wejangan kepada para santri di pelosok negeri.

“Kita akan mendeklarasikan para santri untuk menjaga akhlak dan kualitas, moral kepada anak-anak santri yang bersatu padu dalam menjaga santri bela negara dalam wadah solidaritas santri nusantara,” tuturnya.

Dalam wadah itu, tambah Gus Ali, para anggotanya merupakan para santri di seluruh nusantara dengan tujuan untuk menjaga revolusi akhlak anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.

“Kami juga mengajak kepada Bapak Joko Widodo sebagai penasihat para santri, terlebih di waktu beliau sebagai presiden ketujuh menyetujui adanya hari Santri Indonesia,” tegasnya.