Jakarta, NUSANTARAPOS – Setiap tahun, tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri. Penetapan Hari Santri oleh Joko Widodo merupakan bentuk pengakuan negara atas jasa besar para santri dan pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Sejak saat itu, hampir di seluruh penjuru negeri, berbagai kegiatan digelar: upacara, kirab santri, istigasah, apel kebangsaan, seminar, hingga berbagai perlombaan. Semua itu tentu memiliki nilai positif.
Ia menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri yang telah mempertaruhkan jiwa demi tegaknya agama dan kemerdekaan bangsa. Namun, jika kita jujur bertanya kepada diri sendiri, ada satu pertanyaan besar yang perlu dijawab:
Apakah Hari Santri hanya akan menjadi agenda tahunan yang selesai setelah panggung dibongkar dan spanduk diturunkan?
Jika jawabannya iya, maka kita sedang kehilangan makna terbesar dari Hari Santri itu sendiri.
Santri Tidak Dilahirkan untuk Menjadi Penonton
Santri sejak dahulu bukanlah kelompok yang hanya pandai berkumpul dan berpidato. Sejarah mencatat bahwa santri adalah pelaku perubahan.
Mereka mendirikan sekolah, membangun masyarakat, mengembangkan pertanian, berdagang, menulis kitab, melahirkan pemimpin bangsa, menjaga persatuan, bahkan berada di garis depan ketika negeri ini membutuhkan pengorbanan.
Karena itu, semangat Hari Santri seharusnya tidak berhenti pada mengenang masa lalu, tetapi melahirkan karya-karya baru yang akan dikenang di masa depan.
Bukan sekadar berkata, “Selamat Hari Santri.”
Tetapi mampu berkata, “Inilah hadiah kami untuk Hari Santri tahun ini.”
Lahirnya Perkumpulan Solidaritas Santri Nusantara (SANTUN)
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Ir Joko Widodo bersama KH. Maskur Ali berinisiatif mendirikan Perkumpulan yang bernama Solidaritas Santri Nusantara (SANTUN).
SANTUN bukan hadir untuk menambah organisasi baru.
SANTUN hadir sebagai rumah besar bagi seluruh santri Indonesia yang ingin berkarya. SANTUN lahir dengan keyakinan bahwa santri tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan.
Santri harus menjadi pelaku perubahan.
Nama SANTUN bukan sekadar singkatan.
Ia adalah doa sekaligus karakter.
Santun dalam akhlak.
Santun dalam berdakwah.
Santun dalam berpikir.
Santun dalam memimpin.
Santun dalam membangun bangsa.
Namun di balik kesantunan itu tersimpan keberanian untuk melakukan perubahan besar.
Solidaritas Adalah Kekuatan
Kata “solidaritas” dipilih bukan tanpa alasan.
Karena kekuatan terbesar santri bukan hanya jumlahnya. Tetapi persaudaraannya.
Jika jutaan santri saling membantu, saling menguatkan, dan saling membuka peluang, maka tidak ada kekuatan yang mampu menghentikan kemajuan mereka.
SANTUN ingin menjadi jembatan.
Menghubungkan santri desa dengan dunia.
Menghubungkan pesantren tradisional dengan teknologi modern. Menghubungkan alumni dengan adik-adik santri.
Menghubungkan ide menjadi karya.
Menghubungkan semangat menjadi gerakan.
Dari Seremonial Menjadi Gerakan Nasional
Peringatan Hari Santri harus menjadi titik awal lahirnya berbagai program nyata.
Bukan hanya seremoni satu hari.
Tetapi gerakan sepanjang tahun.
SANTUN ingin menghadirkan program-program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh santri dan pesantren.
Di antaranya:
-Pengembangan keterampilan digital bagi santri agar siap menghadapi era teknologi.
-Pelatihan kewirausahaan dan ekonomi kreatif berbasis pesantren.
-Penguatan media santri agar mampu menyebarkan dakwah yang moderat, cerdas, dan menyejukkan.
-Pendampingan pendidikan, beasiswa, dan pengembangan kompetensi.
-Digitalisasi administrasi pesantren.
Pengembangan koperasi dan usaha produktif pesantren.
-Jejaring alumni santri untuk saling menguatkan dalam dunia profesional.
-Gerakan literasi, riset, dan inovasi santri.
Semua itu bukan mimpi.
Semua itu bisa diwujudkan jika dikerjakan bersama.
Saatnya Melahirkan Gerakan “Satu Hari Santri, Satu Karya Nyata”
Bayangkan jika jutaan santri di Indonesia tidak hanya memperingati Hari Santri dengan apel, tetapi juga menghasilkan satu karya nyata setiap tahunnya.
Satu pesantren membuat aplikasi digital. Satu pesantren menerbitkan buku. Satu pesantren memiliki koperasi modern.Satu pesantren membangun kebun produktif.
Satu pesantren memiliki studio podcast. Satu pesantren memiliki media digital sendiri. Satu pesantren menghasilkan konten dakwah yang ditonton jutaan orang.
Dalam waktu lima tahun saja, Indonesia akan menyaksikan ribuan karya luar biasa lahir dari dunia pesantren.
Santri Harus Menjadi Pencipta, Bukan Sekadar Pengguna
Kita hidup di era kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan ekonomi digital.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah teknologi akan masuk ke pesantren?”
Tetapi, “apakah pesantren akan menjadi pelopor teknologi yang membawa nilai-nilai Islam?”
Santri harus mulai menjadi programmer, desainer grafis, editor video, penulis, peneliti, pengusaha, ilmuwan, jurnalis, dan inovator. Karena dakwah hari ini tidak hanya dilakukan di mimbar, tetapi juga melalui layar ponsel yang ada di tangan miliaran manusia.
Satu langkah kecil yang dilakukan ribuan pesantren akan menjadi lompatan besar bagi bangsa.
Hari Santri Harus Menjadi Hari Lahirnya Peradaban Baru
Pesantren telah bertahan ratusan tahun karena kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan nilai.
Kini saatnya pesantren kembali memimpin. Bukan hanya memimpin dalam ilmu agama.
Tetapi juga dalam teknologi. Dalam ekonomi. Dalam pendidikan. Dalam media. Dalam inovasi. Dalam kepedulian sosial.
Dunia membutuhkan wajah Islam yang ramah, cerdas, produktif, dan membawa solusi. Dan santri memiliki modal besar untuk menghadirkan wajah itu.
Jangan Bertanya Apa yang Negara Berikan kepada Santri
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang bisa santri berikan kepada Indonesia?
Karena santri sejati tidak menunggu perubahan.
Santri adalah pencipta perubahan.
Ia tidak sibuk mencari panggung.
Tetapi sibuk menciptakan manfaat.
Ia tidak mengejar popularitas.
Tetapi mengejar keberkahan.
Warisan Terbaik untuk Hari Santri
Bayangkan ketika anak cucu kita membaca sejarah puluhan tahun dari sekarang.
Mereka tidak hanya menemukan foto-foto upacara Hari Santri. Mereka juga menemukan ribuan sekolah yang dibangun oleh santri.
Rumah sakit yang didirikan santri. Perusahaan yang dipimpin santri. Media yang dikelola santri. Teknologi yang diciptakan santri.
Karya ilmiah yang ditulis santri. Gerakan sosial yang digagas santri. Itulah Hari Santri yang sesungguhnya.
Hari ketika kita tidak hanya mengenang jasa para pendahulu, tetapi juga melanjutkan perjuangan mereka melalui karya nyata yang manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
Mari kita ubah makna Hari Santri. Dari sekadar seremoni menjadi momentum lahirnya inovasi. Dari sekadar peringatan menjadi gerakan. Dari sekadar slogan menjadi tindakan.
Sebab santri bukan hanya pewaris sejarah. Santri adalah pencipta masa depan. Dan karya nyata adalah cara terbaik untuk menghormati perjuangan para ulama serta memastikan bahwa semangat Hari Santri terus hidup dalam setiap langkah pengabdian kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.

