Jakarta, Nusantarapos – Eryc, pria asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau baru saja menjalani sidang terbuka dan berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi Konsentrasi Manajemen Stratejik, Universitas Trisakti dengan nilai Sangat Memuaskan.
Disertasi yang diteliti berjudul “Peran Digital Maturity dalam Meningkatkan Sustainable Innovation Performance melalui Digital Business Model Innovations pada Pelaku Ekonomi Kreatif di Indonesia.” Menggunakan pendekatan mixed-method sequential explanatory dengan analisis SEM (AMOS 26.0) dan FGD yang dianalisis menggunakan NVivo 14.
Sidang terbuka tersebut dipimpin oleh tim promotor dan penguji yang dipimpin Promotor Prof. Dr. Yolanda Masnita Siagian, MM., CIRR., CMA., CPM., serta Ko-Promotor Dr. Leila Yusran, MM., CMA., CPM.
Riset ini menjawab pertanyaan besar: apakah semakin matang secara digital suatu pelaku bisnis kreatif, semakin baik pula inovasi dan kinerjanya dalam jangka panjang? Dengan melibatkan 320 responden dari pelaku ekonomi kreatif di lima kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar — serta diperdalam lewat Focus Group Discussion bersama para praktisi lintas subsektor, riset ini menggunakan metode statistik canggih dan analisis kualitatifuntuk memetakan faktor-faktor penentu kinerja inovasi yang berkelanjutan.
Total ada enam variabel yang diuji, mencakup lebih dari 10 subsektor ekonomi kreatif mulai dari game, musik, film dan animasi, desain visual, hingga periklanan digital.
Tiga Temuan Utama yang Perlu Diketahui:
Pertama, inovasi model bisnis digital adalah kunci — bukan sekadar teknologinya. Bukan soal teknologi apa yang dipakai, tapi bagaimana teknologi mengubah cara bisnis menciptakan nilai, menawarkan produk secara digital, dan membuka sumber pendapatan baru. Pelaku yang mengintegrasikan ketiganya secara bersamaan terbukti memiliki kinerja inovasi yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan.
Kedua, kematangan digital di Indonesia masih bersifat operasional, belum strategis. Ini adalah temuan paling mengejutkan dari riset ini. Digital maturity — seberapa siap sebuah organisasi secara digital — ternyata hanya berperan sebagai moderator parsial. Artinya, banyak pelaku ekonomi kreatif sudah menggunakan teknologi untuk kebutuhan sehari-hari seperti media sosial, e-commerce, dan komunikasi digital, tapi belum menjadikan digital sebagai inti strategi bisnis jangka panjang mereka. Ini adalah kesenjangan besar yang harus segera dijembatani.
Ketiga, kemampuan adaptasi, pengelolaan produk, dan kepekaan terhadap pelanggan adalah fondasi yang tidak bisa diabaikan.
Tiga hal yang paling menentukan keberhasilan inovasi model bisnis digital adalah: kemampuan organisasi mendeteksi peluang dan bergerak cepat (dynamic capabilities), pengelolaan produk yang iteratif dan responsif (product management), serta pemahaman mendalam tentang kebutuhan pelanggan (customer requirement). Ketiganya harus berjalan beriringan — tidak bisa satu-satu.

“Transformasi digital bukan soal memiliki aplikasi atau akun media sosial. Ini soal apakah bisnis kita benar-benar berubah cara kerjanya — dari cara menciptakan nilai, menawarkan produk, hingga bagaimana kita menghasilkan pendapatan. Banyak pelaku kreatif kita masih di tahap pertama, padahal potensinya luar biasa,” kata Eryc saat diwawancarai awak media, Rabu (24/6/2026).
Riset ini bukan sekadar karya akademik, ia memberikan peta jalan yang nyata bagi tiga kelompok besar. Bagi pelaku UMKM kreatif, temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada SDM digital, budaya organisasi yang berani bereksperimen, dan pemahaman mendalam tentang pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar membeli teknologi terbaru.
Bagi pemerintah dan pembuat kebijakan, riset ini menggarisbawahi bahwa program digitalisasi UMKM harus melampaui pelatihan teknis — ia harus menyentuh kesiapan strategis, kepemimpinan digital, dan ekosistem kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Bagi investor dan ekosistem startup, riset ini menawarkan kerangka baru untuk menilai kematangan dan potensi inovasi jangka panjang sebuah bisnis kreatif secara lebih terukur.
Indonesia memiliki 17 subsektor ekonomi kreatif dengan kontribusi PDB yang terus tumbuh. Riset ini hadir tepat waktu — menawarkan landasan ilmiah untuk akselerasi yang lebih cerdas, bukan sekadar lebih cepat.
Setelah meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi, Eryc berharap, “Harapannya iu adalah di swgala keterbatasan kita, yang penting kita harus punya motivasi diri dan tekad yang kuat bahwasanya kita ini bisa. Kedua, pastinya untuk masyarakat, ilmu yang saya dapat disini bisa lebih bermanfaat memberikan kontribusi nyata di bidang masyarakat, baik dari segi akademis di pengajaran saya di kampus ataupun prakteknya langsung di masyarakat, bisa mengisi pengabdian kepada masyarakat yang ada,” paparnya.
“Dan bagi negara, kalau hasil ini bisa didengarkan maka bisa diimplementasikan sebaik kebijakan,” pungkasnya
Sekedar informasi, Eryc adalah seorang profesional dengan pengalaman puluhan tahun di dunia korporat, sekaligus co-founder startup yang memahami betul tantangan nyata di lapangan. Ia juga aktif sebagai dosen dan konsisten menghasilkan riset di bidang digitalisasi serta manajemen teknologi berkelanjutan. Perpaduan pengalaman praktis dan akademis inilah yang membuat disertasinya berakar kuat di realitas bisnis Indonesia — bukan sekadar teori.

