BERITA  

Pertamina Subholding Upstream dan SKK Migas Perkuat Kolaborasi Media Guna Mendukung Energi Nasional

Banyuwangi – Nusantarapos.co.id – Industri hulu minyak dan gas bumi (Migas) membutuhkan dukungan kolaborasi berbagai pihak, termasuk media. Dalam membangun pemahaman publik mengenai peran strategis sektor energi bagi Indonesia. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam mendukung keberlanjutan industri hulu migas.

Hal tersebut disampaikan Senior Manager Relation Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, Sigid Dwi Aryono kegiatan bertema “The Future is Collaborative: Sustaining Our Energy” di Banyuwangi, Jumat (10/7).

“Media bukan hanya menyiarkan berita, media merupakan mitra strategis untuk membangun hulu migas,” ujar Sigid.

Menurutnya, kolaborasi antara industri migas dan insan media sangat penting untuk menghadirkan informasi yang transparan, berimbang, serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kegiatan eksplorasi dan produksi migas di Indonesia.

Melalui komunikasi yang baik, masyarakat dapat memahami tantangan sekaligus kontribusi sektor hulu migas dalam menjaga ketahanan energi nasional. Peran media juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap industri migas.

Dalam kesempatan tersebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memaparkan berbagai aktivitas keterlibatan dengan media sebagai bentuk komitmen terhadap keterbukaan informasi publik. Berbagai kegiatan komunikasi dilakukan mulai dari siaran pers (press release), konferensi pers (press conference), media briefing, media education, media gathering, media visit, hingga doorstop interview.

Selain itu, SKK Migas juga melakukan monitoring media untuk memantau, mengumpulkan, mendokumentasikan, dan menganalisis berbagai pemberitaan maupun percakapan publik di media massa dan media digital.

Saat ini terdapat 167 Wilayah Kerja (WK) migas di Indonesia, yang terdiri atas 104 WK eksploitasi, 44 WK eksplorasi, dan 19 WK dalam proses terminasi. Potensi tersebut didukung dengan aktivitas sekitar 2.300 lapangan eksplorasi dan pengembangan, lebih dari 30.000 sumur, serta 126 proven play.

Indonesia juga memiliki wilayah kerja aktif lebih dari 460 ribu kilometer persegi yang mencakup wilayah darat dan lepas pantai. Infrastruktur pendukung sektor hulu migas meliputi 639 platform, fasilitas 2 LNG Plant, 6 LPG Plant, serta jaringan pipa sekitar 47,5 ribu kilometer.

Dengan potensi sumber daya yang besar tersebut, SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan Pertamina Subholding Upstream terus mendorong peningkatan kegiatan eksplorasi dan produksi migas.

Kolaborasi antara pemerintah, industri, media, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan energi Indonesia sekaligus mendukung tercapainya ketahanan energi nasional.

“The Future is Collaborative: Sustaining Our Energy” menjadi pengingat bahwa masa depan energi Indonesia membutuhkan kerja bersama dan komunikasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan.

“Mitra strategis untuk membangun keberlanjutan hulu migas demi tercapainya kebutuhan migas nasional, ” imbuh Sigid.

Sementara itu, Senior manager External Communication & Stakeholder Relations Subholding Upstream Pertamina Hulu Energi, Fitri Erika saat konfirmasi dalam cara serupa mengatakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi kepada awak media yang selama ini membersamai sektor hulu. “Tanpa teman-teman (media) apa yang kita capai tidak akan tersampaikan ke masyarakat, ” serunya.

Dijelaskan bahwa kegiatan kolaborasi antara media dengan pihaknya bertujuan saling menguatkan . Sehingga perlu danya satu visi dan pandangan. Nara sumber yang dihadirkan juga membahas isue terkini hulu migas dan demi menunjang kreatifitas media.

“Kami dari Pertamina hulu energi /group Pertamina dari sektor hulu telah berkontribusi sebanyak 65 persen produksi nasional dari sisi minyak dan 35 persen dari sisi gas. Semua ini bagian dari upaya Pertamina dalam pemenuhan kebutuhan energi, ” ungkap Fitri.

Diketahui dalam data yang dihimpun oleh media, diproyeksikan lifting minyak Indonesia hingga akhir 2026 berada pada kisaran 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari (bph). Dengan rincian dari produksi minyak sebesar 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL 29,1 ribu bph.

Sementara itu, untuk lifting atau penyaluran gas tercatat sebesar 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dengan realisasi salur gas mencapai 5.207 MMSCFD. Adapun outlook 2026, produksi gas diperkirakan mencapai sekitar 6.787 MMSCFD, sedangkan salur gas sekitar 5.400 MMSCFD.

Diperoleh data SKK Migas per Juli 2024, Indonesia memiliki potensi migas yang besar dengan 128 cekungan (basin). Potensi cadangan migas nasional mencapai 4,70 miliar barel minyak (BBO) dan 55,76 triliun kaki kubik gas (TCF) yang berasal dari cadangan potensial dan terbukti.

 

Transformasi Media Digital, Ditengah Kebutuhan Gen Z

Pertamina hadir tidak hanya memenuhi kebutuhan energi nasional. Akan tetapi juga menjejali ilmu bagi kreatifitas media secara utuh. Perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi mendorong kolaborasi antara Pertamina dengan industri media untuk melakukan transformasi. Nafas industri media saat ini tidak lagi hanya bersaing dalam kecepatan menyajikan berita, tetapi dituntut mampu menghadirkan informasi yang lebih bernilai melalui kombinasi berita, konteks, data, dan pengetahuan.

Transformasi media menjadi kebutuhan utama di tengah perubahan ekosistem digital. Pembaca kini semakin meninggalkan pola konsumsi informasi berbasis cetak dan beralih ke platform digital yang menawarkan konten lebih cepat, praktis, serta interaktif, terutama dalam bentuk audio visual seperti video pendek, podcast, siaran langsung, dan konten multimedia.

Perubahan ini membuat perusahaan media harus beradaptasi dari model lama menuju model baru. Media tidak cukup hanya mengandalkan produksi berita, tetapi perlu berkembang menjadi perusahaan media modern yang mampu mengelola berbagai platform digital, membangun komunitas, menyelenggarakan event, serta menciptakan produk informasi yang sesuai kebutuhan audiens.

Artinya, media memiliki peran lebih luas, yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui konten yang mendalam, analisis, database, panduan, hingga penjelasan terhadap isu-isu yang berkembang.

Di sisi lain, perusahaan media juga dituntut menjadi perusahaan pengetahuan dengan menghadirkan produk seperti konten edukasi, analisis, riset, serta layanan berbasis kebutuhan pembaca. Kepercayaan publik menjadi aset utama yang harus terus dijaga melalui kualitas jurnalistik dan kedalaman informasi.

Ditengah riuh kebutuhan itu, Pertamina hadir dalam solusi. Koordinator Komunikasi SKK Migas , Arif Hermawan dalam materinya menyatakan bahwa media sebagai pembentuk opini publik, khususnya di industri hulu migas.

“Di era digital dan kecerdasan buatan, media yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan audiens akan menjadi media yang tetap dipercaya dan memiliki keberlanjutan bisnis, ” jelas Arif.

Lanjut Arif, kebutuhan lain, media juga harus mampu menggunakan aplikasi buatan seperti AI. Perabot aplikasi ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung kerja jurnalistik, mulai dari produksi konten, pemantauan isu yang sedang berkembang, analisis sentimen publik, pelacakan kata kunci, riset pasar, hingga membantu memahami perilaku audiens.

 

Cetak Industri Media Hingga Berkaki Beton

Perubahan teknologi juga membawa tantangan baru. Penurunan trafik media digital, perubahan pola distribusi melalui platform, persaingan dengan kreator konten, serta perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat perusahaan media harus melakukan inovasi.

Dilema usaha media dalam menyajikan informasi, Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina kembali hadir. Tentang bagaimana menyuguhkan hasil dan pendistribusian naskah berita.

Chief Conten Officer Kapanlagi Univers, Wenseslaur Manggut memaparkan kondisi dan ekosistem media yang mengalami perubahan. Transformasi digital bukan berarti menggantikan peran jurnalis. Teknologi menjadi alat pendukung agar media dapat bekerja lebih efektif, sementara nilai utama berupa verifikasi, akurasi, etika, dan kepercayaan tetap menjadi fondasi utama.

Dalam menghadapi era baru tersebut, perusahaan media perlu melakukan beberapa langkah strategis, seperti memperkuat identitas media, membangun basis data lokal, memproduksi konten berkelanjutan (evergreen content), mengembangkan komunitas, serta memahami kebutuhan pembaca melalui pemanfaatan data.

“Angkat isue lokal menjadi konten yang tidak dimiliki orang lain. Virginitas konten khususnya tema lokal dijadikan branding dalam menyajikan hasil karya. Ini justru lebih menjual dari pada konten umum. Karena hanya dimiliki oleh media daerah atau komunitas lokal. Media yang kuat dalah media yang bisa bertahan dalam ekosistem bisnis,” tutur Manggut.

 

Distribusi Media Jadi Jurus Raup Rupiah

Saat ini, media juga menghadapi tuntutan untuk mengembangkan model bisnis baru. Pendapatan tidak lagi hanya berasal dari iklan, tetapi dapat dikembangkan melalui monetisasi konten, layanan berbasis data, riset, komunitas, hingga berbagai produk digital.

Transformasi media pada akhirnya bukan sekadar perubahan dari media cetak ke digital, melainkan perubahan cara perusahaan media memberikan nilai kepada masyarakat. Media masa depan adalah media yang mampu menggabungkan kekuatan jurnalistik, teknologi, data, dan komunitas untuk menghadirkan informasi yang terpercaya, relevan, dan bermanfaat.

“Memang harus bisa bersaing dengan platform dunia digital yang lain,” Kata Cief Executif Officer Suara.com, Suwarjono dalam sesi materi acara Media Gathering Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina.

Di tengah perkembangan teknologi digital, strategi pengelolaan konten menjadi salah satu kunci penting dalam menyampaikan informasi secara cepat, menarik, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Pendekatan konten kini tidak hanya mengandalkan teks, tetapi juga mengoptimalkan berbagai format visual serta pemanfaatan kanal digital.

Strategi konten tersebut mencakup penguatan konten visual, website, konten lokal, hingga distribusi informasi melalui berbagai platform digital. Melalui konten visual, informasi dapat dikemas dalam berbagai bentuk seperti pembaruan berita, video, podcast, grafis, infografis, hingga visualisasi data.

Penyajian informasi dalam bentuk visual dinilai mampu meningkatkan daya tarik audiens karena pesan dapat diterima secara lebih sederhana dan komunikatif. Selain itu, penggunaan data dalam konten juga membantu masyarakat memahami informasi secara lebih objektif dan terpercaya.

Selain visual, website tetap menjadi salah satu media utama dalam membangun citra dan kredibilitas. Pengelolaan website diarahkan untuk menghadirkan konten berkualitas dan orisinal yang bersumber dari informasi terpercaya sehingga mampu menjadi rujukan bagi masyarakat.

Dalam lingkup lokal, strategi konten diarahkan pada isu-isu yang dekat dengan masyarakat, seperti informasi terkini, kesehatan, pendidikan, serta kegiatan komunitas. Konten lokal mengutamakan kualitas informasi dengan memanfaatkan sumber resmi pemerintah dan data yang valid sebagai penguat.

Sementara itu, dari sisi distribusi, penyebaran informasi dilakukan melalui berbagai saluran digital, mulai dari media sosial, komunitas kreator konten, kanal WhatsApp, hingga newsletter. “Melalui strategi konten yang terintegrasi, penyampaian informasi diharapkan mampu menjangkau masyarakat lebih luas, meningkatkan interaksi dengan audiens, serta membangun kepercayaan publik terhadap informasi yang disampaikan, ” tutup Suwarjono. (Fie).