Jakarta , Nusantarapos – Di tengah ambisi Jakarta bertransformasi menjadi kota global, isu ketahanan pangan khususnya pemenuhan protein hewani menjadi pilar krusial yang terus digenjot oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Melalui Perumda Dharma Jaya, berbagai langkah strategis mulai dari program pangan murah keliling hingga pembangunan kawasan pertanian terpadu (integrated farming) tengah disiapkan demi menjaga stabilitas harga dan menekan stunting di ibu kota.
Dalam sebuah diskusi publik yang dipandu oleh Moh Gunawan Abdillah di studio EZY TV, Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, mengungkapkan bahwa sebagai salah satu BUMD pangan, pihaknya memegang mandat utama untuk memastikan ketersediaan protein hewani dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Strategi Jemput Bola lewat Mobil Keliling “Jawara”
Untuk memastikan keterjangkauan akses, Perumda Dharma Jaya tidak hanya mengandalkan skema subsidi stasioner, melainkan aktif melakukan aksi jemput bola ke pemukiman warga melalui program operasi pasar keliling bernama “Jawara”.
”Setiap hari ada enam kelurahan yang kami kelilingi menggunakan armada mobil”.
“Jadwalnya kami koordinasikan dengan pihak kelurahan beberapa hari sebelum pelaksanaan bazar murah, sehingga informasi tersampaikan dengan baik ke masyarakat,” ujar Raditya.
Selain itu, bagi masyarakat umum yang tidak masuk dalam daftar penerima Kartu Pangan Murah, Dharma Jaya juga menyediakan opsi kemasan daging ekonomis seharga Rp20.000 yang bisa dibeli melalui berbagai platform belanja online.
Produk porsi sekali masak ini diharapkan dapat membantu pemenuhan gizi harian rumah tangga tanpa membebani dompet warga.
Ciangir dan Serang: Solusi Mandiri Kurangi Sapi Impor
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Jakarta saat ini adalah ketergantungan pasokan daging sapi hidup yang masih didominasi oleh impor dari Australia.
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan gejolak ekonomi global menjadi ancaman nyata yang bisa melambungkan harga daging domestik.
Menanggapi tantangan ini, Raditya membeberkan rencana besar pemanfaatan lahan seluas 20 hektar di Ciangir, Tangerang, untuk dibangun menjadi kawasan integrated farming.
”Rencana kami di Ciangir adalah membangun ekosistem peternakan terpadu, mulai dari fasilitas penggemukan berkapasitas 5.000 ekor sapi hidup, pabrik pakan, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga rumah potong hewan dan cold storage,” jelasnya.
Tidak hanya di Ciangir, Dharma Jaya juga mengoptimalkan lahan lain di daerah Serang untuk menjadi pusat pembinaan peternak lokal.
Strategi ini diambil untuk mengatasi kelemahan mendasar sapi lokal yang selama ini kalah bersaing akibat standarisasi pakan dan perawatan yang beragam di tingkat peternak tradisional.
Dengan standarisasi ini, diharapkan persentase importasi daging secara bertahap dapat diturunkan.
Dukungan Legislatif di Tengah Kontraksi APBD
Langkah optimis Dharma Jaya mendapat respons positif sekaligus catatan kritis dari pihak legislatif.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Jupiter, menegaskan komitmen dewan dalam mengawal anggaran ketahanan pangan karena menyangkut hak dasar masyarakat.
Namun, ia tidak menampik adanya tantangan fiskal di tahun 2026 ini.
Jupiter menyebutkan terjadinya penurunan atau kontraksi APBD DKI Jakarta yang semula diproyeksikan mencapai Rp91 triliun kini terkoreksi menjadi kisaran Rp81 triliun akibat ketidakpastian dana bagi hasil dari pemerintah pusat.
Meski kapasitas fiskal daerah sedang tertekan, Komisi B DPRD DKI Jakarta berkomitmen untuk tetap memprioritaskan anggaran subsidi pangan.
Jupiter juga mendorong Dharma Jaya untuk berani mengambil langkah ekstrem demi memutus ketergantungan impor, salah satunya dengan mendatangkan tenaga ahli luar negeri untuk melatih SDM lokal.
”Kondisi global serba tidak pasti, nilai dolar meningkat. Kita harus mandiri dan meniru negara tetangga seperti Malaysia atau Vietnam yang sudah mampu mengandalkan produksi dalam negeri. Kita bisa rekrut ahli peternakan untuk mendidik SDM kita agar tata kelola pangan mandiri ini berjalan maksimal,” tegas Jupiter.
*Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor*
Sementara itu, perwakilan dari pelaku usaha kuliner dan masyarakat, Tobias, turut mengingatkan pemerintah untuk menjaga stabilitas rantai pasok pangan. Menurutnya, fluktuasi harga bahan pangan seperti ayam dan daging sangat berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat serta kesehatan anak-anak terkait penanganan stunting.
Menutup diskusi, Direktur Utama Dharma Jaya menekankan bahwa kemandirian pangan menuju Jakarta Kota Global tidak bisa diwujudkan sendirian.
Pihaknya mengharapkan dukungan penuh berkelanjutan dari jajaran eksekutif di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung, kemitraan erat bersama Komisi B dan C DPRD DKI, serta kolaborasi aktif dengan Kamin (Kamar Dagang dan Industri) serta para distributor lokal demi memastikan pasokan protein hewani warga Jakarta tetap aman dan sehat. ***

