JAKARTA, NUSANTARAPOS – Perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika seseorang harus menghadapi kehilangan, kekecewaan, hingga pergulatan batin yang datang dari orang-orang terdekat. Hal itu pula yang dialami Febriani Razetta, perempuan berusia 29 tahun yang kini tengah belajar menjalani hidup dengan lebih tenang setelah melewati masa-masa sulit dalam keluarganya.
Salah satu titik terberat dalam hidup Febby terjadi pada 2021. Saat itu, ia sedang bekerja di Samarinda ketika mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dunia. Kabar tersebut menjadi pukulan tersendiri, terlebih ia tidak bisa langsung pulang karena terkendala jarak dan perjalanan.
Namun, kehilangan sang ayah bukan satu-satunya hal yang harus dihadapi Febby. Belum genap 100 hari setelah kepergian ayahnya, ia mengetahui bahwa ibunya menikah lagi dengan teman dekat almarhum ayahnya. Kabar tersebut justru didapatkannya dari tetangga, bukan dari keluarga sendiri.
Situasi itu membuat Febby merasakan kekecewaan mendalam. Ia mengaku semakin terluka ketika dirinya disalahkan atas kepergian sang ayah. Sebelumnya, Febby memang sempat menyarankan keluarganya pindah ke kampung halaman saat pandemi Covid-19 karena khawatir situasi di Jakarta semakin sulit.
Keputusan tersebut kemudian dikaitkan dengan keterlambatan penanganan ayahnya yang mengalami sesak napas.
Padahal, menurut Febby, dirinya telah berusaha memberikan yang terbaik selama ayahnya sakit. Ia bahkan berhenti bekerja untuk mendampingi sang ayah menjalani perawatan di rumah sakit selama 12 hari.
Sebagai anak yang saat itu menjadi tulang punggung keluarga, Febby berusaha memenuhi kebutuhan pengobatan ayahnya. Tabungan yang dikumpulkan selama bekerja pun digunakan, hingga ia sempat mempertimbangkan menjual mobil demi membiayai kebutuhan keluarga.
Situasi tersebut terasa semakin berat karena terjadi ketika pandemi Covid-19 masih memengaruhi kehidupan banyak orang. Kesempatan kerja terbatas, pendapatan berkurang, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.
Di tengah semua itu, Febby mengaku terus mempertanyakan dirinya sendiri. Ia berulang kali memikirkan apakah selama ini dirinya belum cukup memberikan kasih sayang kepada sang ibu.
Pikiran tersebut perlahan memengaruhi kondisi emosionalnya. Beban kehilangan, rasa bersalah, dan persoalan keluarga membuatnya mengalami masa sulit yang kemudian mendorongnya mencari bantuan profesional.
Pada pertengahan 2022, Febby memutuskan pergi ke Jakarta dan bertemu dengan teman-temannya. Kepada mereka, ia mulai menceritakan berbagai persoalan yang selama ini dipendam sendiri.
Melihat kondisinya yang semakin mengkhawatirkan, seorang teman kemudian mengantarnya berkonsultasi dengan psikiater di rumah sakit. Febby juga menjalani perawatan lanjutan sesuai arahan tenaga profesional.
Dukungan teman menjadi salah satu bagian penting dalam proses pemulihannya. Bagi Febby, kehadiran orang-orang yang bersedia mendengarkan membuatnya merasa tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.
Dalam proses tersebut, ia juga mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat, seperti berolahraga, berlari, dan berenang. Aktivitas fisik itu menjadi salah satu cara yang membantunya mengelola emosi dan memberikan ruang bagi dirinya untuk menenangkan pikiran.
Selain itu, Febby mulai mengikuti kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan dan panti jompo, serta menghadiri sejumlah kegiatan komunitas. Ia juga mengikuti sekolah modeling untuk membangun kepercayaan diri dan belajar lebih berani berinteraksi dengan orang lain.
Berbagai pengalaman tersebut perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Dahulu, Febby menganggap keluarga sebagai sesuatu yang akan selalu utuh. Namun, pengalaman yang dilewatinya membuat ia memahami bahwa kehidupan bisa berubah dan tidak semua hal dapat dikendalikan.
Ia pun mulai belajar menerima kenyataan tanpa harus terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Kini, Febby mengaku berada dalam fase yang lebih damai dengan masa lalunya. Ia tidak lagi ingin menghabiskan seluruh energinya untuk mempertanyakan hal-hal yang telah terjadi.
Menurutnya, setiap orang memiliki pilihan hidup masing-masing. Namun, ia berharap perubahan dalam kehidupan seseorang tidak membuat hubungan dan kenangan masa lalu diabaikan begitu saja.
Bagi Febby, perbedaan pendapat maupun keputusan hidup seharusnya tidak serta-merta menghilangkan rasa saling menghargai.
Pengalaman tersebut juga membuatnya memiliki pandangan baru tentang keluarga, pengorbanan, dan kebahagiaan pribadi. Ia menyadari bahwa membantu keluarga merupakan hal yang berarti, tetapi dirinya sendiri juga membutuhkan perhatian.
Pesan itu terutama ingin ia sampaikan kepada mereka yang menjadi tulang punggung keluarga atau berada dalam situasi generasi sandwich, yakni kelompok yang menanggung kebutuhan anggota keluarga dari generasi berbeda.
“Boleh kita berbakti kepada keluarga, boleh juga kita berkorban untuk keluarga. Tapi menurutku kita juga harus sedikit kasih space untuk diri kita sendiri, untuk bahagiain diri kita sendiri, karena keluarga nggak selamanya terus-terus sama kita,” ungkap Febby.
Ia berharap orang-orang yang sedang menghadapi persoalan serupa tidak melupakan kebutuhan dan kebahagiaan dirinya sendiri hanya karena ingin memenuhi harapan orang lain.
Sebab, menurutnya, seseorang bisa saja sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi keadaan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Karena itu, penting untuk tetap memiliki ruang untuk beristirahat, memulihkan diri, dan kembali menemukan hal-hal yang membuat hidup terasa berarti.
Saat ini, Febby menjalani sejumlah pekerjaan freelance sembari kembali menikmati aktivitas yang sempat tertunda. Ia mulai rutin berolahraga, termasuk berlari dan bermain tenis, serta ingin menjalani kehidupan yang lebih sehat.
Ia juga memiliki keinginan untuk bepergian, berbagi dengan sesama, dan terlibat dalam kegiatan sukarela atau volunteering.
Bagi Febby, semua itu bukan sekadar aktivitas baru. Ia ingin memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk menikmati kehidupan yang selama bertahun-tahun terasa berat dijalani.
Di sisi lain, ia masih menyimpan harapan untuk membangun keluarga kecilnya sendiri pada masa depan. Ia ingin memiliki pasangan yang bertanggung jawab, menyayangi keluarga, dan bersedia tumbuh bersama.
Lebih dari itu, Febby ingin membangun keluarga dengan pola hubungan yang lebih sehat, tanpa mengulang pengalaman menyakitkan yang pernah ia rasakan.
Perjalanan Febby menjadi pengingat bahwa proses bangkit dari persoalan keluarga tidak selalu berlangsung cepat. Ada pengalaman yang membutuhkan waktu panjang untuk diterima, ada pula luka yang perlu diproses dengan bantuan orang lain.
Namun, pengalaman masa lalu tidak harus menjadi satu-satunya penentu arah kehidupan seseorang.
Bagi Febby, berdamai bukan berarti melupakan apa yang pernah terjadi. Berdamai adalah menerima bahwa masa lalu merupakan bagian dari perjalanan hidup, sekaligus memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menata masa depan.
Kini, ia ingin melangkah dengan lebih tenang, merawat dirinya sendiri, dan menjalani kehidupan yang selama ini ingin ia bangun.


