SURABAYA, NUSANTARAPOS — Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga rekreasi seperti lari dan padel, kebutuhan tenaga fisioterapi yang mampu menangani cedera olahraga secara tepat dan profesional semakin mendesak. Menanggapi hal tersebut, RSUD Dr Soetomo bekerja sama dengan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Surabaya serta Ikatan Alumni Fisioterapi Universitas Airlangga (IKAFTE‑UA) Cabang Surabaya menggelar seminar dan workshop fisioterapi olahraga perdana di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu‑Minggu, 17‑18 Oktober 2026, dan ditujukan khusus bagi fisioterapis profesional serta mahasiswa fisioterapi se‑Jawa Timur.
Sebanyak 50 peserta hadir yang berasal dari berbagai wilayah, antara lain Surabaya, Jember, Blitar, Mojokerto, dan Banyuwangi. Kegiatan terbagi dalam dua sesi utama: hari pertama diisi pemaparan teori dan wawasan akademik, sedangkan hari kedua berupa praktik langsung penanganan cedera olahraga.
Materi utama yang disampaikan meliputi prevalensi, mekanisme terjadinya cedera, pemeriksaan fungsi fisik, evaluasi klinis, penilaian hasil pemulihan, serta pengembalian kondisi pasien untuk berolahraga kembali. Fokus utama bahasan adalah penanganan cedera pada olahraga yang sedang populer saat ini, yaitu lari (running/maraton) dan padel.
Ketua Panitia sekaligus Ketua IFI Cabang Surabaya Andy Setyawan, S.Kes(Ft) menjelaskan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi fisioterapis dalam menangani kasus‑kasus cedera olahraga terkini.
“Tujuan utamanya agar ilmu yang disampaikan narasumber dapat diserap maksimal oleh para fisioterapis dan mahasiswa, lalu dapat diterapkan ke masyarakat. Kami berharap setelah mengikuti workshop ini kemampuan penanganan cedera olahraga menjadi lebih baik dan kompeten, sehingga masyarakat semakin percaya dengan layanan fisioterapi,” ujarnya.
Andi menambahkan masa pemulihan cedera berbeda‑beda tergantung bagian tubuh yang terkena. Umumnya cedera otot memerlukan waktu pemulihan sekitar satu bulan, sedangkan cedera ligamen dapat mencapai 3‑6 bulan. Penanganan yang tidak tepat dapat membuat kondisi cedera semakin memburuk. Ia juga menyampaikan panduan pertolongan pertama di lapangan: istirahatkan bagian yang cedera dan kompres dingin selama 24 jam pertama. Jika pembengkakan atau memar tidak membaik, segera bawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) untuk pemeriksaan lebih lanjut sebelum mendapatkan penanganan fisioterapi.

Sementara itu, Ketua IKAFT‑UA Defianti Ariani, STr.Kes., Ftr., M.Psi.T menyampaikan kegiatan ini juga bertujuan membuka wawasan mahasiswa bahwa fisioterapi tidak hanya berfokus pada pengobatan, melainkan juga promosi dan pencegahan cedera olahraga di masyarakat.
Dalam sesi pemaparan, narasumber yang juga fisioterapis tim nasional ASEAN Cup menjelaskan jenis‑jenis cedera khas tiap cabang olahraga. Olahraga lari banyak menyebabkan cedera pergelangan kaki, lutut, dan otot paha; padel sering menimbulkan keluhan di pergelangan tangan dan siku; sedangkan sepak bola dan futsal lebih berisiko cedera pada anggota gerak bawah. Beberapa kasus cedera berat memerlukan rujukan ke dokter ortopedi sebelum mendapatkan penanganan fisioterapi.
Ke depannya, IKAFT – UA berencana mengadakan pelatihan lanjutan yang lebih berfokus pada kasus muskuloskeletal atau gangguan otot‑tulang bagi fisioterapis dan mahasiswa fisioterapi. Kegiatan serupa direncanakan dilaksanakan hingga dua kali dalam setahun guna terus mendukung peningkatan kualitas layanan fisioterapi olahraga di wilayah Jawa Timur.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan tercipta tenaga fisioterapi yang lebih siap merespons tantangan kesehatan olahraga saat ini, serta mendorong kolaborasi berkelanjutan antara rumah sakit, organisasi profesi, dan perguruan tinggi demi kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. (Aryo)


