SURABAYA, NUSANTARAPOS – Ribuan peserta menghadiri pembukaan Kongres Nasional/Majelis Tahkim Pimpinan Pusat Syarikat Islam (SI) ke-42 di Jatim Expo, Surabaya, Minggu (18/10/2026).
Kongres yang berlangsung pada 17-20 Oktober 2026 itu mengusung tema “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati”, sebuah tema yang sekaligus menjadi penegasan arah perjuangan Syarikat Islam untuk kembali memperkuat ekonomi umat, membangun kemandirian, dan menerjemahkan dakwah ke dalam gerakan nyata di tengah masyarakat.
Pembukaan kongres dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Syarikat Islam, Wakil Menteri Koperasi Farida Fariha, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.
Presiden Lajnah Tanfidziyah Pimpinan Pusat Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, dalam pidatonya menegaskan bahwa pemilihan Surabaya sebagai lokasi Kongres ke-42 bukan sekadar pilihan tempat, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali memori perjuangan panjang Syarikat Islam.
Menurut Hamdan, lima tahun sebelumnya Kongres Nasional ke-41 dilaksanakan di Surakarta untuk mengingat kembali akar sejarah Syarikat Islam yang berkembang dari Sarekat Dagang Islam (SDI), organisasi yang lahir dari kalangan pedagang dan pengusaha pribumi di Laweyan, Surakarta.
“Perlawanan dimulai dari gerakan memperbaiki ekonomi rakyat, karena di bidang itulah sumber masalah yang menyebabkan kita dijajah,” ujar Hamdan.
Ia menegaskan, kemiskinan tidak hanya melahirkan persoalan ekonomi, tetapi juga kebodohan, rasa rendah diri dan ketidakberdayaan. Karena itu, semangat perjuangan yang dahulu dibangun Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto perlu diterjemahkan kembali dalam konteks kekinian melalui gerakan memperkuat ekonomi umat.
“Atas dasar itu, sekarang ini kita hendak bangkit membangun kembali gerakan dan perlawanan yang sama, yaitu gerakan perbaikan ekonomi umat,” tegasnya.
Hamdan menjelaskan, dakwah ekonomi merupakan metode dakwah yang menempatkan pembangunan jiwa kewirausahaan, kemandirian dan kesejahteraan sebagai bagian integral dari perjuangan keumatan. Menurutnya, gagasan tersebut bukan sesuatu yang baru bagi Syarikat Islam. Justru sejak awal, dakwah ekonomi telah menjadi bagian dari napas perjuangan organisasi.
Menghidupkan Kembali Api Kongres 1913
Surabaya memiliki posisi istimewa dalam sejarah perjuangan Syarikat Islam. Pada awal 1913, kongres dan rapat akbar SI di Surabaya menghimpun sekitar 15.000 anggota dan simpatisan. Peristiwa tersebut mengguncang perhatian pemerintah Hindia Belanda sekaligus menunjukkan bahwa kaum pribumi telah menemukan bentuk baru kekuatan politik dan sosial yang terorganisasi.
Dari momentum tersebut, rumah HOS Tjokroaminoto di Kampung Peneleh kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perkaderan pergerakan nasional.
Di rumah itulah sejumlah tokoh yang kelak mewarnai sejarah Indonesia seperti Soekarno, RM Kartosoewirjo, Semaun dan Agus Salim berinteraksi dengan Tjokroaminoto serta menyerap gagasan tentang bangsa, agama, kebudayaan dan kemerdekaan.
Gagasan-gagasan itu tidak berhenti dalam diskusi. Melalui surat kabar Oetoesan Hindia yang dipimpin Tjokroaminoto, pemikiran kebangsaan dan semangat perlawanan disebarkan ke berbagai penjuru Hindia Belanda.
“Rumah Peneleh menjadi rumah pergerakan, rumah perkaderan dan akademi politik yang melahirkan para tokoh penggerak kemerdekaan,” kata Hamdan.
Karena itu, menurut Hamdan, Kongres ke-42 di Surabaya harus dibaca bukan sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai upaya menyambung kembali mata rantai perjuangan tersebut dalam konteks Indonesia abad ke-21.
Koperasi sebagai Jalan Kemandirian
Hamdan juga mengingatkan bahwa setelah kongres pertama di Surabaya, perjuangan transformasi keumatan dan kerakyatan terus dikembangkan melalui gerakan ekonomi. Salah satunya ditandai dengan berdirinya Koperasi Setia Oesaha serta NV Handel Maatschappij Setia Oesaha sebagai upaya memperluas akses kaum pribumi terhadap modal.
Bagi Syarikat Islam, koperasi bukan semata-mata instrumen bisnis untuk mengejar keuntungan, melainkan institusi ekonomi yang memiliki dimensi sosial dan berorientasi pada kesejahteraan kolektif. Konsep tersebut sejalan dengan prinsip syirkah ta’awuniyah, yakni kerja sama ekonomi berasas gotong royong.
Karena itu, Hamdan menegaskan, semangat koperasi harus kembali menjadi salah satu instrumen utama dakwah ekonomi Syarikat Islam.
Pendidikan: Membangun Manusia Merdeka
Namun, Hamdan mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi tidak mungkin dibangun tanpa manusia yang merdeka secara pikiran dan memiliki kemampuan ilmu pengetahuan.
Karena itu, Kongres ke-42 juga ingin menyegarkan kembali gagasan pendidikan yang pernah dirumuskan HOS Tjokroaminoto melalui konsep Muslim Nationale Onderwijs pada 1925.
Konsep pendidikan tersebut berusaha memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, engineering, matematika-aritmatika dengan pendidikan agama Islam. Bagi Hamdan, gagasan itu sangat relevan untuk menjawab tantangan Indonesia hari ini.
“Dakwah ekonomi menuju kemerdekaan sejati harus dibangun melalui pendidikan, karena kemerdekaan tanpa pengetahuan hanya akan melahirkan ketergantungan baru,” tegasnya.
Meneguhkan Sosialisme Islam
Dalam konteks ideologi perjuangan, Hamdan juga mengingatkan Syarikat Islam agar tidak meninggalkan nilai-nilai dasar yang diwariskan HOS Tjokroaminoto dan para pendahulunya.
Salah satunya adalah gagasan sosialisme Islam, atau sosialisme berketuhanan yang berakar pada nilai keadilan, kebersamaan, kebangsaan dan kerakyatan.
Menurut Hamdan, sosialisme Islam yang dikembangkan Syarikat Islam bukanlah sosialisme yang memisahkan kehidupan sosial dari nilai ketuhanan, melainkan gagasan ekonomi dan sosial yang menempatkan keadilan serta kesejahteraan rakyat dalam kerangka ajaran Islam.
Gagasan tersebut pernah disuarakan dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh Syarikat Islam seperti dr. Abdoel Moeis, Haji Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, A.M. Sangaji, Arudji Kartawinata, Suryopranoto, Raden Pandji Sosrokardono dan para pelanjut perjuangan SI hingga hari ini.
Islam dan Nasionalisme
Hamdan menegaskan, bagi Syarikat Islam, Islam dan nasionalisme bukan dua kutub yang harus dipertentangkan.
Keduanya justru bertemu dalam cita-cita membangun masyarakat yang adil, berdaulat dan bermartabat.
Semangat keislaman menjadi sumber moral perjuangan, sementara kecintaan kepada Indonesia menjadi ruang pengabdian kebangsaan. Dalam kerangka itulah, Syarikat Islam ingin terus menempatkan dirinya sebagai wadah perjuangan keumatan sekaligus kerakyatan.
Ekonomi Rakyat dan Perlawanan terhadap Ketergantungan
Hamdan juga menyampaikan dukungan terhadap berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat kemandirian ekonomi melalui koperasi.
Ia mengingatkan kembali bahwa HOS Tjokroaminoto dalam berbagai kunjungannya ke daerah selalu memberikan perhatian terhadap perkembangan koperasi.
Karena itu, SI mendorong penguatan ekonomi kerakyatan sekaligus pengembangan ekonomi syariah agar umat memiliki alternatif terhadap praktik ekonomi yang menjerat dan menciptakan ketergantungan.
Penguatan zakat, infak, sedekah dan wakaf juga ditempatkan sebagai bagian penting dari dakwah ekonomi. ZISWAF tidak boleh berhenti pada pendekatan konsumtif, tetapi harus dikembangkan secara produktif agar menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi umat.
Mengembalikan SI sebagai Wadah Perjuangan
Pada akhirnya, Hamdan menegaskan bahwa Kongres Nasional ke-42 harus menjadi momentum untuk menyegarkan kembali posisi Syarikat Islam sebagai wadah perjuangan umat dan rakyat.
Hal itu dilakukan dengan membaca kembali Program Asas dan Program Tandhim dalam hubungannya dengan realitas kehidupan masyarakat, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia saat ini.
Syarikat Islam harus mampu memahami tantangan baru yang muncul pada abad ke-21, termasuk perubahan teknologi, informasi, komunikasi dan era post-truth yang mengubah cara masyarakat menerima dan mempercayai informasi.
Karena itu, organisasi tidak boleh berhenti pada kebanggaan sejarah. Warisan HOS Tjokroaminoto harus diubah menjadi kekuatan nyata: pendidikan yang mencerdaskan, ekonomi yang memberdayakan, koperasi yang memperkuat gotong royong, dakwah yang menghadirkan kemanfaatan, serta perjuangan kebangsaan yang menjaga martabat manusia.
“Setidak-tidaknya, kita menyegarkan kembali dan mendudukkan Syarikat Islam sebagai wadah perjuangan keumatan atau kerakyatan,” kata Hamdan.
Dari Surakarta tempat SDI lahir, ke Surabaya tempat bara pergerakan SI pernah menggetarkan pemerintah kolonial, Syarikat Islam kini berusaha menyambung kembali mata rantai sejarah itu.
Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk menjadikan warisan perjuangan HOS Tjokroaminoto sebagai energi baru menghadapi tantangan zaman.
Dakwah ekonomi menjadi jalan perjuangan. Kemandirian menjadi tujuan. Dan kemerdekaan sejati menjadi cita-cita yang hendak terus diperjuangkan.
Ferry: Perkuat Pilar Ekonomi Umat
Sementara itu, Menteri Koperasi yang juga Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Syarikat Islam, Ferry Julianton Swo, mengatakan Kongres Nasional ke-42 diharapkan menghasilkan keputusan terbaik bagi umat Islam sekaligus bangsa dan negara.
Menurut Ferry, agenda dakwah ekonomi akan diperkuat melalui beberapa pilar utama, yakni ekonomi syariah, koperasi, serta zakat dan wakaf. Seluruhnya diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan dan prinsip keberlanjutan.
Penguatan itu, kata Ferry, antara lain dilakukan dengan memperluas koperasi berbasis pesantren dan masjid, mengembangkan pembiayaan syariah, serta membuka akses permodalan yang lebih luas agar semakin banyak pengusaha muslim tumbuh dan mengambil peran dalam perekonomian nasional.
“Potensinya besar. Syarikat Islam memiliki modal sejarah yang panjang, dari Syarikat Dagang Islam kemudian berkembang menjadi Syarikat Islam. Dari kekuatan ekonomi, organisasi ini juga tumbuh menjadi kekuatan pergerakan kebangsaan,” ujar Ferry.
Bagi Ferry, warisan tersebut menjadi modal penting untuk membawa Syarikat Islam memasuki babak perjuangan baru. Semangat membangun kemandirian ekonomi yang dahulu menjadi pintu masuk perjuangan kaum pribumi kini harus diteruskan dengan memperkuat ekonomi syariah, koperasi, ZISWAF dan pengusaha umat, pungkasnya.


