SURABAYA, NUSANTARAPOS — Seiring meningkatnya kasus stroke yang menjadi salah satu beban kesehatan terbesar di Indonesia, upaya deteksi dini dan pencegahan sejak awal menjadi hal yang sangat penting. Menanggapi hal tersebut, Program Studi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga bersama Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Surabaya mengadakan pengabdian masyarakat berupa skrining deteksi dini risiko stroke bagi dosen dan staf administrasi lingkungan FKM Unair. Kegiatan ini digelar di Aula Sumarto FKM Unair dan menjadi kolaborasi pertama antara kedua pihak, Senin (19/10/2026).
Kegiatan ini berawal dari inisiatif Koordinator Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Dr. Ernawaty, drg., M.Kes., yang melihat pentingnya pemeriksaan dini bagi warga fakultas kesehatan. “Kita ini fakultas kesehatan, masa diri kita sendiri tidak menjaga kesehatan? Semakin awal kita tahu risiko penyakit, semakin baik bagi kita,” ujarnya. Kegiatan ini diprioritaskan bagi peserta berusia di atas 35 tahun.
Skrining yang dilakukan meliputi anamnesis dan edukasi kesehatan, pemeriksaan tekanan darah, penilaian risiko stroke, serta konsultasi dan tindak lanjut. Tim fisioterapis menggunakan beberapa alat penilaian, yaitu Four‑Square Step Test, Fukuda Stepping Test, dan Grab Test untuk menilai keseimbangan, koordinasi tubuh, serta kekuatan genggaman tangan.
Ketua IFI Cabang Surabaya Andy Setyawan, S.Kes(Ft), menjelaskan masing‑masing tes memiliki fungsi berbeda. “Fukuda Stepping Test untuk melihat keseimbangan yang berkaitan dengan bagian otak kecil; Four‑Square Step Test untuk keseimbangan dinamis guna mendeteksi risiko jatuh; sedangkan Grab Test melihat perbedaan kekuatan genggaman tangan kanan dan kiri yang bisa menjadi tanda gangguan saraf,” jelasnya.

Hasil skrining diklasifikasikan menjadi tiga kategori warna: hijau (risiko rendah/normal), kuning (risiko sedang), dan merah (risiko tinggi). Meskipun hasil menunjukkan kategori hijau, peserta tetap mendapatkan edukasi pencegahan, misalnya anjuran latihan keseimbangan. Bagi peserta dengan faktor risiko tinggi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, atau gula darah yang tidak terkontrol, disarankan segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.
Andy menambahkan kegiatan ini berfokus pada pencegahan, bukan penanganan pengobatan lanjutan. Jika ditemukan tanda‑tanda serangan stroke secara mendadak, masyarakat harus segera membawa pasien ke Unit Gawat Darurat rumah sakit untuk penanganan awal. Penanganan fisioterapi baru dilakukan setelah pasien mendapatkan perawatan medis dari rumah sakit.
“Stroke termasuk penyakit dengan biaya perawatan yang tinggi, salah satu dari tujuh hingga sembilan penyakit utama yang menimbulkan beban besar bagi sistem jaminan kesehatan. Melalui deteksi dini ini, kami berharap dapat menekan angka kasus stroke dan beban biaya perawatan di rumah sakit serta sistem Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS),” ujar Andy.
Ke depannya, Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unair bersama IFI Cabang Surabaya berencana memperluas kegiatan skrining ini ke lingkungan yang lebih luas, guna meningkatkan kesadaran deteksi dini risiko stroke bagi masyarakat umum. Kegiatan ini juga menjadi wujud kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi dalam mendukung program pencegahan penyakit tidak menular yang digerakkan pemerintah.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan dapat tumbuh kesadaran hidup sehat sejak dini, mulai dari lingkungan akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, untuk kemudian disebarluaskan ke masyarakat luas guna menurunkan risiko stroke dan beban biaya perawatan kesehatan di masa mendatang. (Aryo).


