TMMD  

Gotong Royong Warga dan Satgas TMMD Percepat Gorong-gorong Jalan Huntara Pepelah

GAYO LUES – Jalan yang terputus dan rumah-rumah yang hanyut akibat bencana pada Desember 2025 masih menyisakan pekerjaan besar bagi masyarakat Kampung Pepelah, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Jumat (23/10/2026).

Di tengah upaya memulihkan kehidupan warga, pembangunan jalan menuju hunian sementara (Huntara) melalui program TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues terus dikebut. Gorong-gorong di titik 1 kini telah mencapai progres 90 persen.

Di lokasi pengerjaan, personel Satgas TMMD tidak bekerja sendiri. Warga setempat ikut turun tangan, bergantian membantu penyelesaian sasaran fisik. Bagi masyarakat, percepatan pembangunan bukan sekadar mengejar target pekerjaan, melainkan harapan agar akses menuju tempat tinggal sementara mereka segera tersedia dan aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan.

Semangat kebersamaan itu juga terlihat dalam pembangunan sasaran fisik lainnya, seperti pembukaan jalan dan pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH). Meski musim hujan membuat pengangkutan material menjadi lebih sulit, Satgas dan warga tetap berupaya memanfaatkan waktu serta tenaga yang tersedia agar pekerjaan berjalan sesuai rencana.

Pengulu Kampung Pepelah, Junaidi, didampingi kepala dusun, mengatakan bahwa bencana yang melanda kampungnya telah merusak berbagai akses dan fasilitas. Hampir seluruh warga mengungsi ke Huntara, sementara jalan terputus, rumah-rumah warga tersapu material longsor, dan sejumlah aset pemerintah turut mengalami kerusakan.

“Warga Kampung Pepelah menyambut hangat Satgas TMMD. Kami atas nama masyarakat sangat berterima kasih kepada Kodim 0113/Gayo Lues, yang perannya untuk masyarakat selalu terdepan,” kata Junaidi.

Wadansatgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues, Kapten Inf MHD Syafi’i Sirait, yang turut bekerja dalam pembuatan gorong-gorong, menegaskan bahwa dukungan masyarakat sangat membantu percepatan pembangunan, terutama ketika hujan menyulitkan pekerjaan di lapangan. Ia berharap sasaran tersebut dapat segera diselesaikan karena masyarakat sangat membutuhkan akses jalan menuju Huntara. Progres 90 persen pada gorong-gorong titik 1 menjadi salah satu tahapan dalam upaya membuka kembali akses yang dibutuhkan warga untuk menata kehidupan setelah bencana.