DAERAH  

Panen Raya Melimpah, Mangga Alpukat Klonal 21 Pasuruan Laris Manis, Diminati Pembeli dari Seluruh Nusantara

Oplus_131072

PASURUAN, NUSANTARAPOS — Kabupaten Pasuruan kembali mencatat kebahagiaan para petani buahnya. Musim panen raya tahun 2026 menjadi momen yang sangat dinantikan, terutama bagi para pembudidaya Mangga Alpukat atau yang lebih dikenal sebagai Mangga Klonal 21. Hasil panen yang melimpah disambut antusiasme tinggi dari masyarakat, membuat komoditas unggulan daerah ini semakin dikenal luas hingga ke mancanegara.

Siapa yang tidak kenal Mangga Alpukat, julukan populer bagi Mangga Klonal 21? Buah tropis yang manis, segar, dan bertekstur lembut ini bukan sekadar ikon hortikultura unggulan Kabupaten Pasuruan, melainkan juga buah tangan spesial yang selalu dinanti para pecinta mangga setiap musim panen tiba.

Memasuki musim panen raya tahun 2026, permintaan terhadap Mangga Alpukat semakin melonjak. Kini buah hasil persilangan Mangga Gadung dan Arumanis ini tidak hanya digemari warga Pasuruan dan sekitarnya, tetapi juga diminati hingga ke luar Jawa, seperti Sumatra dan Kalimantan. Bahkan, permintaan terus mengalir ke pasar luar negeri, antara lain Kuwait, Malaysia, dan Australia.

Di Kecamatan Rembang, salah satu sentra penghasil utama Mangga Alpukat, suasana terasa sangat ramai. Sejak awal Oktober 2026, pembeli berdatangan langsung ke kebun maupun lapak-lapak di sepanjang jalan Desa Oro-oro Ombo dan sekitarnya.

Ladi Khairullah, petani dari Desa Oro-oro Ombo Wetan, mengaku setiap harinya menerima banyak pesanan dari berbagai daerah. “Kebun kami tersebar di enam lokasi, masing-masing sekitar 200 pohon. Saat panen raya, kami bisa memanen 50 kuintal hingga 1 ton per hari,” ujarnya.

Kini saat panen raya, harga lebih terjangkau: Mangga kualitas Grade A dibanderol Rp 30.000 per kilogram, sedangkan Grade B Rp 15.000 per kilogram. Sebelum panen raya, harga berkisar Rp 40.000–Rp 70.000 per kilogram tergantung kualitas dan ukuran buah. Pembelinya datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Tangerang, Kalimantan, dan wilayah lainnya.

Kegembiraan yang sama dirasakan Sugiono, petani dari Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Dari 300 lebih pohon di lahan 2,5 hektar, hasil panennya telah dikirim ke berbagai kota di Pulau Jawa, Sumatra, dan wilayah lainnya. “Banyak juga yang datang langsung ke kebun untuk petik sendiri. Mangga di Wonokerto terkenal manis dan dagingnya lembut karena dibudidayakan sesuai SOP, mulai dari pemangkasan, pemupukan, hingga penanganan pascapanen,” ucapnya bersemangat.

Secara keseluruhan, lahan perkebunan Mangga Alpukat di Kabupaten Pasuruan mencapai lebih dari 4.000 hektar, tersebar di Kecamatan Rembang, Sukorejo, Wonorejo, Nguling, dan Grati. Hingga akhir tahun 2025, tercatat 944.064 pohon berhasil dipanen, meningkat dibandingkan tahun 2024 sebanyak 728.815 pohon.

Keunggulan ini didukung kondisi alam yang ideal tanah hitam dengan tingkat kelembapan yang pas serta penerapan teknologi pertanian, seperti penggunaan paclobutrazol dan pupuk organik, pemangkasan, serta pengembangan sentra perkebunan berkelanjutan yang didukung anggaran APBD Kabupaten Pasuruan. Semua ini menjadikan Mangga Alpukat Klonal 21 sebagai komoditas andalan yang semakin diminati masyarakat luas.

Harapannya, keberhasilan panen raya ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan para petani, tetapi juga semakin memperkuat posisi Mangga Alpukat Klonal 21 sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Pasuruan yang kebanggaan masyarakat Nusantara. Semangat dan kerja keras para petani menjadi bukti bahwa dengan dedikasi dan inovasi, hasil bumi daerah mampu bersaing dan dikenal hingga ke penjuru negeri maupun mancanegara. (Aryo).