Tuban – Nusantarapos.co.id – Di tengah masifnya arus digitalisasi dan transisi energi global, PT Pertamina EP Cepu mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa agar menjadi pelaku pengukir sejarah. Kepala Communication, Relation and CID PT Pertamina Cepu Zona 11, Wazirul Luthfi, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemahaman sektor energi dan penguasaan teknologi digital bagi masa depan bangsa.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Goes To Campus di STAI Senori, Rabu (4/11). Dalam kesempatan tersebut, Luthfi memaparkan materi dengan mengusung tema “Beyond Viral, Speak With Impact, Think Digital, and Lead The Future”.
Ia memaparkan bahwa migas bukan sekadar bahan bakar minyak (BBM), melainkan bagian tak terpisahkan dari keseharian manusia sebagai sumber energi primer dan bahan baku produk petrokimia. “Setiap penggunaan kurang lebih 6.000 produk mulai dari bahan tekstil, plastik, elektronik, perabotan, hingga infrastruktur, sebanyak 54 persennya menggunakan produk non-BBM dan 46 persen menggunakan BBM,” ujarnya.
Dalam paparannya mengenai proyeksi kebutuhan energi Indonesia, Luthfi membeberkan peta jalan bauran energi nasional hingga tahun 2050. Tahun 2020, batubara mendominasi sebesar 37 persen, diikuti minyak 29 persen, gas 21 persen, dan Energi Baru Terbarukan (EBT) 14 persen.
Tahun 2030, batubara diproyeksikan turun menjadi 30 persen, EBT meningkat signifikan ke angka 26 persen, gas 22 persen, dan minyak 23 persen. Sementara di tahun 2050, EBT diproyeksikan mencapai 31 persen, disusul gas 25 persen, batubara 25 persen, dan minyak 20 persen.
Dari data tersebut, persentase bauran energi fosil seperti minyak bumi terlihat menurun dari tahun ke tahun seiring transisi menuju energi ramah lingkungan, Luthfi menekankan bahwa secara nominal, volume kebutuhan pasokan energi justru semakin membesar akibat lonjakan kebutuhan yang masif.
”Dari data tersebut, kita bisa melihat bahwa secara proyeksi konsumsi, minyak naik 139%, dan konsumsi gas naik 298%,” tegasnya.
Selain membahas transisi energi, Luthfi turut menyoroti pentingnya literasi digital bagi generasi muda. Ia mengajak anak muda untuk lebih peka memanfaatkan teknologi sebagai instrumen strategis untuk mengembangkan potensi lokal, membangun portofolio, memperluas jejaring (networking), merintis karir, hingga membangun bisnis.
”Dari sosial media, kita bisa belajar, membangun portofolio, networking, karier, dan bisnis, bukan hanya scroll tanpa melakukan apapun,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret menghadapi persaingan global, Luthfi juga membagikan sejumlah tips penting dalam membangun personal branding. Menurutnya, personal branding yang kuat memungkinkan seseorang tampil berbeda karena memiliki kompetensi, karya nyata, nilai diri, serta kontribusi nyata dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.
Menutup sesinya, Luthfi juga mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan seperti Artificial Intelligence (AI) secara bijak di era modern ini. “Di era saat ini, kita juga bisa memanfaatkan perkembangan AI. Bukan untuk menggantikan peran, tetapi cukup menjadi asisten dalam membuat sebuah karya,” tutupnya.


