Internalisasi Nilai Integritas, KPP Pratama Surabaya Karangpilang Adakan Siraman Rohani

  • Bagikan

Surabaya, Nusantarapos – Dalam rangka pelaksanaan program Internalisasi Corporate Value (ICV), KPP Pratama Surabaya Karangpilang mengadakan siraman rohani yang disampaikan langsung oleh KH. Abraham Naja atau Gus Naja, Pengasuh Jamaah Maos Sholawat pada Jum’at (3/12).

Kegiatan ini dilakukan untuk menanamkan nilai integritas kepada seluruh pegawai di KPP Pratama Surabaya Karangpilang. Integritas itu sendiri merupakan 1 dari 5 nilai-nilai Kementerian Keuangan, yang harus diterapkan oleh seluruh pegawai Kementerian Keuangan dalam kesehariannya.

Sehingga dalam upaya untuk menumbuhkan sikap berupa dorongan hati nurani untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan tekat yang mulia, kegiatan ICV melalui siraman rohani kali ini diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan KPP Pratama Surabaya Karangpilang.

Dalam pembukaan ICV siraman rohani kali ini, Kepala KPP Pratama Surabaya Karangpilang, Ir. Eko Radnadi Susetio,MM menyampaikan bahwa siraman rohani ini diharapkan dapat menjadi sarana yang dapat memupuk nilai integritas bagi seluruh pegawai. Terutama harus dilakukan dalam mengemban tugas dan tanggung jawab sehari-hari. Diharapkan seluruh pegawai dapat memaknai segala tugas dan tanggung jawab yang dilakukan dengan baik dan benar serta dapat terus memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.

Nilai integritas yang diinternalisasikan pada kegiatan ICV siraman rohani kali ini merupakan nilai pertama dari lima nilai kementerian keuangan, dan bukan sebuah kebetulan. Integritas menjadi pondasi dari keempat nilai yang lain. ” Nilai-nilai yang lain tidak dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan sempurna jika nilai pertama ini tidak terinternalisasi terlebih dahulu, ” ujar Radnadi.

Sementara itu, Gus Naja dalam siraman rohaninya memberikan pesan agar pegawai KPP Pratama Surabaya Karangpilang dapat bekerja dengan penuh integritas dan diniatkan sebagai ibadah. Selain itu Gus Naja juga memberikan pemahaman tentang bagaimana kita harus meninggalkan hal-hal buruk dan terus bersikap jujur, tulus dan dapat dipercaya kapanpun dan dimanapun, terutama saat menjalankan tugas sehari-hari.

Selain itu, dalam siraman rohaninya Gus Naja juga menjelaskan tentang konsep rezeki yang diberikan oleh Allah. Dengan mengambil kisah dari Imam Maliki dan Imam Syafi’i. Dalam kisah tersebut, Imam Maliki berpendapat bahwa rezeki tidak akan akan tertukar, meskipun tanpa kita melakukan sesuatu terlebih dahulu. Karena ada campur tangan Allah atas rezeki yang kita terima. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa rezeki mutlak harus diikhtiarkan.

Pembuktian dilakukan oleh Imam Syafi’i, dengan bekerja menjadi pemetik buah Anggur. Setelah bekerja di kebun, Imam Syafi’i mendapatkan upah atas jerih payahnya berupa beberapa buah Anggur. Sehingga Imam Syafi’i merasa bahwa apa yang diyakininya adalah benar, yakni rezeki mutlak harus diikhtiarkan.

Dengan berbangga hati, Imam Syafi’i kemudian membawa anggur tersebut ke Imam Maliki yang merupakan gurunya, untuk memberikan pembuktian dan sekaligus untuk menjadi hadiah untuk di makan bersama. Setelah itu ia menceritakan bahwa rezeki yang ia dapat hari ini merupakan hasil kerja kerasnya selama satu hari ini. Dengan berbangga hati, Imam Syafi’i juga menyatakan bahwa pendapatnyalah yang benar.

Lalu Imam Maliki dengan bijaksananya menceritakan bahwa hari itu, dirinya tidak kemana-mana dan tidak pula melakukan hal apapun kecuali mengajar murid-muridnya. Ia bercerita bahwa hari itu sangat ingin memakan anggur. Sesuai dengan pendapatnya bahwa rezeki tidak akan tertukar. Dirinya menjelaskan bahwa anggur yang ia dapat merupakan rezeki yang diberikan oleh Allah kepadanya dan ada berbagai banyak cara Allah menyampaikan rezeki kepada hambanya. Seperti apa yang telah dialami Imam Maliki dan Imam Syafi’i pada hari ini.

Pesan yang dapat dipetik sesuai dengan kisah ini adalah selain berusaha dengan sungguh-sungguh, ada kekuatan besar yang jauh melampaui kekuatan manusia. Sehingga untuk mencapai tujuan tertentu harus diupayakan dengan ikhtiar yang serius, namun dibarengi dengan doa dan ibadah. Sehingga Allah dapat mengabulkan doa dan harapan kita melalui berbagai jalan rezeki yang tidak disangka.

Selain itu dijelaskan pula bahwa nilai integritas merupakan dasar dari semua nilai pribadi seseorang. Itulah sebabnya setiap Nabi dan Rasul dikenal sebagai pribadi yang jujur dan berintegritas sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul oleh Allah SWT.

“Sebagai contoh Nabi Muhammad SAW, sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul, beliau dikenal sebagai orang yang sangat dipercaya oleh semua orang. Sehingga diharapkan integritas dapat terus ditumbuhkan untuk menjadi dasar nilai perilaku seluruh pegawai di KPP Pratama Surabaya Karangpilang, ” ungkapnya. (Afi)

  • Bagikan