SURABAYA, NUSANTARAPOS – Ketua Ikatan Keluarga Besar Alumni Fakultas Ekonomi Untag Surabaya, bersama ratusan alumni lintas angkatan membahas penguatan silaturahmi, rencana reuni akbar, serta peran alumni dalam mendukung kampus, yang melibatkan angkatan 1980 hingga 1996, ditujukan kepada seluruh jejaring alumni, berlangsung di Bajawa Cafe Jalan Jawa Surabaya, pada momentum halal bihalal pasca Lebaran 2026.
Suasana hangat langsung terasa. Para alumni saling menyapa. Mereka datang dari berbagai kota. Ada yang dari luar Jawa Timur. Bahkan ada yang baru pertama hadir setelah bertahun-tahun.
Kegiatan ini mempertemukan tujuh lapisan angkatan. Mulai 1990 hingga 1996, dengan tambahan angkatan senior. Data panitia menunjukkan, potensi alumni setiap angkatan mencapai lebih dari 1.200 orang.
“Memang sulit mengumpulkan alumni. Tapi tetap jaga kekompakan untuk memajukan Untag Surabaya,” ujar Supriyadi, alumni 1988 yang kini berprofesi sebagai dosen Di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Surabaya.
Ia menegaskan, jaringan alumni memiliki peran penting. Terutama dalam mendukung kemajuan almamater.
Pandemi COVID-19, menjadi salah satu penyebab terhentinya agenda rutin. Halal bihalal yang biasanya digelar setiap tahun sempat vakum.
“Setelah enam tahun, akhirnya kita bisa kumpul lagi. Ini momen penting untuk melepas rindu,” kata Metisa Primittayani, alumni angkatan 1991.
Ia menjelaskan, tradisi halal bi halal atau Halbi, menjadi sarana menjaga hubungan. Istilah “halal bihalal” sendiri merupakan tradisi khas Indonesia. Artinya saling memaafkan setelah Hari Raya Idul fitri fitri.
Para alumni juga memanfaatkan momentum ini untuk berbagi kabar. Banyak di antara mereka telah menempati posisi strategis di berbagai sektor. “Tujuannya sederhana, mempererat hubungan. Supaya kita tidak kehilangan jejak satu sama lain,” ujar Grindo Utomo, alumni 1992.
Ia mengaku datang dari Tegal. Perjalanan jauh tidak menghalangi niatnya bertemu teman lama.
Menuju Reuni Akbar
Panitia Halbi menyampaikan rencana reuni akbar. Targetnya menghadirkan hingga 2.000 alumni dari berbagai angkatan. Data sementara menunjukkan lebih dari 500 alumni telah terdata.
Angka ini diperkirakan terus bertambah. “Kami ingin reuni akbar nanti menjadi momentum besar. Semua angkatan terlibat,” ujar Kusumo Adi Nugroho yang akrab disapa Nuki, perwakilan panitia.
Rencana tersebut juga mencakup penguatan koordinasi antar angkatan. Salah satunya melalui penunjukan koordinator di setiap angkatan. Sejumlah alumni menilai kegiatan ini bukan sekadar nostalgia. Ada nilai sosial yang ingin dibangun.
“Teman-teman yang sukses bisa membantu yang lain. Bisa dalam bentuk kontribusi atau kegiatan sosial,” kata Abdullah Said, alumni 1990.
Pertemuan ini juga memperlihatkan dinamika lintas generasi. Alumni muda hingga senior duduk bersama. Tidak terlihat sekat. “Saya merasa berbaur. Walau beda angkatan, tetap bisa ngobrol dan nyambung,” ujar Dian Kurniawati, alumni 1996.
Jejak Alumnus Muda ke Parlemen Sidoarjo
Kusumo Adi Nugroho alias Nuki, alumni angkatan 1991 Fakultas Ekonomi Untag Surabaya, membahas perjalanan penguatan jaringan alumni dan peran publiknya sebagai anggota DPRD Sidoarjo.
Dia bercerita dengan menekankan konsistensi pengabdian, penguatan silaturahmi lintas angkatan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat, kepada komunitas alumni dan publik, di Bajawa Cafe Surabaya, pada halal bihalal pasca Lebaran 2026.
Nuki dikenal aktif sejak masa kuliah. Ia terlibat dalam organisasi mahasiswa. Rekan seangkatannya menyebut, kehadirannya selalu terlihat dalam berbagai kegiatan kampus. “Saya mengenalnya baik. Selalu ada di setiap acara,” ujar Grindo Utomo, alumni 1992.
Jejak itu berlanjut. Dari ruang kelas menuju ruang publik. Nuki kemudian dipercaya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), lembaga legislatif daerah yang berfungsi menyusun peraturan daerah bersama pemerintah.
Perjalanan tersebut tidak terlepas dari relasi sosial yang dibangun sejak muda. Alumni lain menilai, karakter Nuki terbentuk dari interaksi lintas organisasi.
“Pak Nuki ini sosok yang kita butuhkan. Bibit kepemimpinannya sudah terlihat waktu mahasiswa,” kata Supriyadi, dosen dan alumni senior.
Dalam forum alumni, Nuki menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia menegaskan posisi sebagai bagian dari sistem yang bekerja untuk kepentingan publik. “Kami ini cuma sebagai pondasi untuk membangun sesuatu yang lebih baik,” ujar Kusumo alias Nuki.
Di sisi lain, rekan dekatnya menggambarkan sisi personal yang tetap terjaga. Interaksi sehari-hari menunjukkan pola komunikasi yang cair. “Dia orangnya care dan selalu membela teman,” kata Metisa Primittayani, alumni 1991 teman kelas Nuki, yang juga istri pejabat deputi di Kemenpora.
Fakta tersebut memperlihatkan satu garis perjalanan. Dari mahasiswa, aktivis, hingga pejabat publik. Jalur yang terbentuk melalui proses panjang, keterlibatan, dan kepercayaan yang terus dibangun.
Acara ditutup dengan foto bersama. Serta komitmen untuk terus menjaga komunikasi. Di tengah kesibukan masing-masing, pertemuan ini menjadi pengingat. Bahwa hubungan yang terbangun sejak bangku kuliah, tetap memiliki makna. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu. (Aryo).

