Jakarta, Nusantarapos – Perumda Pasar Jaya memperkuat komitmennya dalam mendukung gerakan pemilahan sampah dari sumber sebagai bagian dari upaya membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah di Jakarta.
Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan Widiyantoro, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi dan fasilitas pengolahan, tetapi juga sangat ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat sejak dari sumbernya.
Menurut Agus, kebiasaan memilah sampah perlu dimulai dari rumah sebelum sampah dibawa ke tempat pengumpulan maupun fasilitas pengolahan. Langkah sederhana tersebut menjadi fondasi penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
“Kuncinya tetap ada di masyarakat, yaitu memilah sampah dari rumah,” ujar Agus.
Ia mengatakan, gerakan pemilahan sampah dari sumber harus dilakukan secara konsisten dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Perubahan perilaku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari warga Jakarta.
“Gerakan ini benar-benar menjadi budaya baru bagi Jakarta,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Perumda Pasar Jaya memiliki posisi strategis karena mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta. Pasar tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga merupakan ruang interaksi antara pedagang dan masyarakat dalam jumlah besar setiap hari.
Karena itu, Pasar Jaya mendorong pengelolaan sampah di lingkungan pasar dilakukan secara lebih terstruktur. Upaya tersebut antara lain melalui pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemanfaatan kembali barang yang masih dapat digunakan, serta pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.
Agus menilai pasar dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Pedagang maupun konsumen dapat didorong untuk membiasakan diri memilah sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Upaya tersebut juga sejalan dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R). Melalui pemilahan sejak dari sumber, sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi dapat diarahkan untuk dimanfaatkan dan didaur ulang. Sementara itu, sampah residu dapat ditangani melalui fasilitas pengolahan yang sesuai.
Agus menegaskan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata persoalan kebersihan kota. Menurutnya, cara masyarakat memperlakukan sampah juga mencerminkan tingkat kesadaran dan kualitas peradaban sebuah kota.
“Peradaban sebuah bangsa juga ditentukan dari bagaimana kita memperlakukan sampah,” tegasnya.
Ia menambahkan, persoalan sampah di Jakarta yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah, pengelola pasar, pedagang, konsumen, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat memiliki peran sesuai kapasitas masing-masing.
“Persoalan sampah Jakarta yang selama ini belum terselesaikan dapat kita atasi bersama,” ujar Agus.
Selain mendorong pemilahan dari sumber, Pasar Jaya juga mendukung berbagai inovasi pengelolaan sampah yang dikembangkan pemerintah, termasuk penerapan konsep ekonomi sirkular dan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WtE).
Namun, Agus menekankan bahwa teknologi pengolahan sampah harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan yang terintegrasi. Pengurangan sampah dan pemilahan dari sumber tetap menjadi tahapan awal yang sangat menentukan kualitas sampah yang masuk ke proses pengolahan berikutnya.
Dengan jaringan pasar yang luas, Pasar Jaya berkomitmen menjadikan lingkungan pasar sebagai salah satu ruang edukasi publik mengenai pentingnya pengelolaan sampah.
Kebiasaan menggunakan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta memilah sampah diharapkan semakin melekat dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.
Gerakan tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas kebersihan. Setiap rumah tangga, pedagang, dan konsumen memiliki peran sejak sampah pertama kali dihasilkan.
Melalui penguatan pemilahan sampah dari sumber, Perumda Pasar Jaya berharap ekosistem pengelolaan sampah di Jakarta semakin efektif dan berkelanjutan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan.
Terpisah, Pengawas Lingkungan Hidup Cempaka Putih, Agus Sasmita menambahkan, pengolahan sampah warga harus dilakukan pemisahan terlebih dahulu dari sumbernya.
“Jadi enggak bisa langsung… itu diolah organiknya, lalu nanti jadi bahan makanan atau pakan… Nah, salah satunya apa dari sumbernya? Dari sumbernya ini berarti dari rumah tangga,” jelasnya dalam Diskusi Publik Jakarta Bergerak Bersama, Pilah Sampah dari Sumber, Jadi Budaya Baru Warga Kota, Rabu (19/8/2026).
Selain melakukan pemilahan dari sumbernya, lanjut Agus mengatakan bahwa masyarakat perlu memahami SOP dalam memilah sampah Rumah Tangga. Sehingga tujuan akhirnya petugas pengangkut sampah tidak kerepotan dalam mengangkut sampah warga.
“Jadi sama seperti SOP-nya, dipisah. Mungkin ada 4 atau 3 kategori di situ. Salah satunya B3, tapi B3 kan jarang-jarang… Sisa-sisa bahan beracun seperti obat nyamuk, obat-obatan, suntikan, itu mungkin jarang ya,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan, Ketua KAMAKSI Joko Priyosky. Diri mendukung penuh gerakan pemilahan sampah pada sumbernya. Selain dapat mengurangi kepadatan volume sampah. Pemilihan sampah juga dapat menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat.
” Dengan adanya pemilahan sampah, para warga masyarakat Jakarta juga mendapat sumber ekonomi. Sehingga dapat membantu perekonomian warga Jakarta yang saat ini tengah menghadapi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok,”ujarnya.



