BUDAYA  

Klotok Carnival Pukau Ribuan Pengunjung

TUBAN- Nusantarapos.co.id- Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menggema di Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti Klotok Cultural Carnival (KCC) 2026, dengan menampilkan beragam kostum dan kreasi budaya hasil kreativitas masyarakat setempat,Rabu (19/8/2026).

 

Mengusung tema “Heritage of People and Earth (HOPE)”, KCC tahun ini tidak sekadar menjadi pesta rakyat. Karnaval tersebut menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengenalkan potensi budaya lokal kepada masyarakat luas.

 

Kepala Desa Klotok, Suhartoyo, mengatakan KCC digelar panitia Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) Desa Klotok sebagai rangkaian perayaan kemerdekaan. Sebelumnya, pada Selasa malam (18/8/2026), masyarakat juga menggelar Klotok Sembodo Bersholawat dengan menghadirkan Syaid Zulfikar dari Sidoarjo.

 

“Intinya adalah kebudayaan dari masyarakat lokal. Warga kita mempunyai kreativitas tinggi dalam membuat kostum-kostum karnaval. Kostum yang dibuat sangat banyak sekali,” ujar Suhartoyo.

 

Menurutnya, KCC juga menjadi wadah untuk menjembatani kreativitas pemuda Desa Klotok agar tidak berhenti sebagai karya semata, tetapi dapat berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

 

Hal itu telah dimulai melalui Klotok Custom Fest (KCF) yang digelar pada 25 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi ajang peluncuran berbagai produk kostum karnaval karya anak-anak muda Desa Klotok.

 

“Alhamdulillah, sudah banyak yang digunakan oleh desa-desa lain. Bahkan kemarin di Kadungrejo juga banyak menggunakan produk anak-anak kita,” ungkapnya.

 

Suhartoyo menambahkan, kreativitas pemuda Klotok dalam membuat kostum juga terlihat dalam KCC tahun ini. Sedikitnya terdapat sekitar 12 kostum karya pemuda yang turut ditampilkan dan dipromosikan melalui media sosial Instagram.

 

Menariknya, kemeriahan KCC sebagian besar dibiayai secara swadaya oleh masyarakat, terutama para pemuda. Mereka bahkan melakukan berbagai cara kreatif untuk mengumpulkan dana kegiatan.

 

Salah satunya untuk menyewa sound system yang membutuhkan biaya puluhan juta rupiah. Dana tersebut diperoleh dari hasil penyewaan kostum hingga aktivitas lain yang dilakukan para pemuda, termasuk ikut mengelola tanaman melon.

 

“Untuk sewa sound system ini sangat mahal, kisaran Rp50 juta ke atas. Ini murni dari para pemuda sendiri,” jelas Suhartoyo.

 

Ke depan, pihak Desa Klotok berharap kegiatan tersebut semakin terkonsep. Namun, Suhartoyo menyebut pihaknya ingin lebih serius membangun branding Klotok Custom Fest (KCF) sebagai wadah pengembangan industri kreatif kostum karnaval.

 

“Ke depan KCC ini lebih terkonsep lagi. Mungkin kita akan lebih mengedepankan branding baru, yaitu KCF. Karena KCC lebih pada karnaval, sedangkan KCF menjadi wadah pembuatan dan pengembangan kostumnya,” katanya.

 

Sementara itu, Plt Sekretaris Kecamatan Plumpang, Devie Linggar Buanasari, mengapresiasi pelaksanaan pawai budaya tersebut. Menurutnya, KCC menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong, kerukunan, dan kebersamaan masyarakat Desa Klotok.

 

“Kami dari Pemerintah Kecamatan Plumpang sangat mengapresiasi teman-teman, perangkat desa, serta masyarakat Desa Klotok. Kegiatan pawai budaya hari ini sangat mencerminkan budaya kita, yaitu budaya gotong royong dan kerukunan,” tuturnya.

 

Ia menilai KCC telah berkembang menjadi kegiatan yang mampu membawa nama Desa Klotok dikenal di luar daerah. Menurutnya, capaian tersebut patut diapresiasi karena sebuah desa mampu menghasilkan karya budaya yang mendapat perhatian dari masyarakat di berbagai daerah.

 

“Desa Klotok bisa dikenal di berbagai daerah lainnya. Ini sangat bagus,” ujarnya.

 

Namun, di tengah suasana perayaan kemerdekaan, Devie juga mengajak masyarakat untuk tetap menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Ia menyinggung kondisi saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang menghadapi bencana.

 

“Harapan kita hari ini, selain merayakan kemerdekaan, kita juga ikut memberikan perhatian dan waktu kepada saudara-saudara kita di NTT,” katanya.

 

Devie berharap KCC dapat terus digelar setiap tahun dengan konsep yang semakin matang. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

 

“Semoga setiap tahun Desa Klotok bisa menyelenggarakan pawai budaya yang dapat mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat kita, terutama kepada generasi penerus,” pungkasnya.