KEDIRI,NUSANTARAPOS, – Upaya membangun generasi muda yang cerdas, berprestasi, sekaligus memiliki karakter dan akhlak yang baik membutuhkan keterlibatan seluruh elemen pendidikan. Tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan tenaga pendidik, pembentukan karakter anak juga sangat ditentukan oleh peran serta orang tua dalam lingkungan keluarga.
Pentingnya kolaborasi antara keluarga dan sekolah tersebut menjadi pesan utama yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Dr. Mokhamat Muhsin, M.Pd., saat membuka kegiatan Parenting Sinergi Orang Tua dan Sekolah Menuju Murid Berkarakter di SMPN 1 Semen, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat pemahaman orang tua mengenai pentingnya pendampingan pendidikan anak, sekaligus membangun hubungan komunikasi yang lebih harmonis antara pihak sekolah dan keluarga.
Dalam sambutannya, Muhsin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat hanya diukur dari capaian akademik maupun nilai yang diperoleh peserta didik di sekolah. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk kepribadian anak agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, jujur, mandiri, bertanggung jawab, santun, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, sekolah dan orang tua merupakan dua lingkungan pendidikan yang memiliki peran saling melengkapi. Guru bertugas memberikan pembelajaran, membimbing, serta menanamkan nilai-nilai positif di lingkungan sekolah. Sementara itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan dan memperkuat nilai-nilai tersebut melalui pola pengasuhan dan pembiasaan di rumah.
“Anak-anak membutuhkan keteladanan, bukan sekadar nasihat. Apa yang diajarkan guru di sekolah harus mendapatkan penguatan dari orang tua di rumah. Begitu pula sebaliknya, pembiasaan baik dalam keluarga harus didukung oleh lingkungan sekolah,” pesannya.
Muhsin menjelaskan, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, nasihat, maupun materi pembelajaran di dalam kelas. Nilai-nilai karakter harus diterapkan secara nyata dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembiasaan sederhana seperti menghormati orang yang lebih tua, berbicara dengan sopan, menghargai sesama, menjaga kebersihan, menaati aturan, serta membiasakan sikap jujur merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter anak.
Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan kepada sekolah. Pendampingan terhadap anak di rumah tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, anak membutuhkan perhatian, pengawasan, serta komunikasi yang baik dari orang tua. Kehadiran keluarga dalam mendampingi perkembangan anak dapat membantu membangun rasa percaya diri, kedisiplinan, serta kemampuan anak dalam menghadapi berbagai persoalan.
Selain menekankan pentingnya keteladanan, Muhsin juga mengingatkan perlunya membangun komunikasi dua arah antara pihak sekolah dan orang tua murid.
Komunikasi yang terbuka dinilai menjadi salah satu kunci untuk mengetahui perkembangan peserta didik, baik dari sisi akademik, perilaku, maupun kondisi sosial dan emosionalnya.
Apabila ditemukan persoalan terkait perilaku maupun perkembangan anak, pihak sekolah dan orang tua diharapkan dapat duduk bersama untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan justru saling menyalahkan atau melempar tanggung jawab.
“Jangan sampai sekolah memiliki pola pembinaan sendiri, sementara di rumah anak mendapatkan pola pendidikan yang berbeda. Karena itu, sinergi harus dibangun agar anak memperoleh arahan yang konsisten,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa kesamaan pola pembinaan antara sekolah dan keluarga sangat diperlukan agar anak tidak mengalami kebingungan dalam memahami aturan, tanggung jawab, serta nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan parenting tersebut, para orang tua diharapkan semakin memahami bahwa mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi maupun memastikan anak mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Namun, juga menyangkut bagaimana membangun kedekatan emosional, memberikan perhatian, serta menjadi contoh perilaku yang baik bagi anak-anaknya.
Muhsin berharap kegiatan parenting tidak sekadar menjadi agenda pertemuan atau kegiatan seremonial antara sekolah dengan wali murid. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus mampu menghasilkan komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui keterlibatan aktif orang tua.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan akan semakin mudah diwujudkan apabila terdapat kesamaan visi dan langkah antara guru, orang tua, serta lingkungan masyarakat.
Sekolah perlu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Sementara keluarga harus mampu menghadirkan lingkungan yang mendukung perkembangan anak, termasuk memberikan ruang bagi anak untuk belajar bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensi dirinya.
“Tujuan akhir pendidikan bukan hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak baik, mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menghargai sesama,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia berharap sinergi yang terbangun melalui kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Hubungan antara sekolah dan orang tua tidak boleh hanya terjalin ketika ada persoalan, tetapi harus dibangun sejak awal sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap masa depan peserta didik.
Dengan adanya komunikasi dan kerja sama yang baik, berbagai tantangan dalam dunia pendidikan diharapkan dapat dihadapi secara bersama-sama. Termasuk dalam memberikan pendampingan terhadap perubahan perilaku anak, perkembangan teknologi, pergaulan, serta tantangan lingkungan sosial yang semakin kompleks.
Melalui penguatan kolaborasi antara sekolah dan keluarga, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri berharap satuan pendidikan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki integritas, karakter kuat, serta budi pekerti luhur.
Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, sekaligus mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mampu menghadapi tantangan masa depan dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik.
Pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari anak di sekolah, tetapi juga tentang nilai-nilai kehidupan yang mereka lihat, rasakan, dan praktikkan setiap hari di lingkungan keluarga maupun masyarakat.


