Setiap tanggal 21 April, kita selalu memperingati salah satu pahlawan wanita R.A Kartini dimana beliau sebagai simbol wanita yang memiliki semangat dalam ikut memerdekakan bangsa Indonesia dan juga mensetarakan gender antara laki-laki dan wanita. Pemilik nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat itu merupakan pelopor emansipasi wanita dan kebangkitan perempuan pribumi-nusantara.
Meskipun seorang wanita, namun beliau merupakan sosok cerdas, visioner, berani, dan berwawasan luas yang gigih memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan hak-hak perempuan di tengah kungkungan adat Jawa pada saat itu. Sehingga di era ini lahirlah Kartini-Kartini baru yang memiliki semangat tak kalah dengan Kartini masa lalu.
Salah satu Kartini masa kini yang terlihat adalah Siti Jamaliah Lubis, wanita tangguh yang membidangi hukum itu menjadi sorotan atas perjuangannya mensejajarkan advokat melalui Kongres Advokat Indonesia (KAI). Melalui KAI bersama dengan kakak kandungnya almarhum Indra Sahnun Lubis atau lebih dikenal dengan sebutan ISL itu berhasil mendobrak sistem yang mengklaim bahwa organisasi advokat cukup hanya satu.
Siti Jamaliah Lubis atau biasa disapa di kalangan advokat dengan panggilan Kak Mia itu menjadi wanita pertama yang berhasil menahkodai organisasi advokat sebesar KAI. Meskipun dirinya seorang wanita, namun Kak Mia mampu memimpin 40 ribu anggotanya yang mayoritas adalah laki-laki.
Bahkan melalui tangan dinginnya, kini Kongres Advokat Indonesia menjadi organisasi besar yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat. Untuk itu, di momen Hari Kartini kami mencoba untuk melakukan wawancara khusus dengan wanita asal Sumatera Utara tersebut. Berikut adalah wawancara kami dengan Siti Jamaliah Lubis, SH., MH., :
Bagaimana Kak Mia melihat sosok R.A Kartini ?
Ibu Kartini patut kita ikuti sebagai acuan kita perempuan Indonesia, dimana saat itu beliau memikirkan bagaimana perempuan Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sama bukan hanya menjaga anak karena telah menjadi seorang ibu.

Bagaimana Kak Mia melihat perempuan jaman dulu dengan masa kini ?
Mungkin perempuan jaman dulu hanya cukup menjaga anak, karena yang mencari nafkah suaminya. Namum kalau sekarang itu eranya sudah beda, dimana sebagai Kartini masa kini kiita harus juga bisa mencari nafkah untuk keluarga mengingat tingginya biaya hidup sekarang ini.
Jadi Kartini sekarang itu tidak hanya memikirkan menjaga anak, tapi harus juga bekerja dan berkarya terutama untuk keluarganya kalau gak nanti gak sekolah anaknya. Ada perbedaan antara Kartini dulu dan sekarang, tapi gagasan Kartini sangat bagus.
Apakah Kak Mia juga terinspirasi dengan sosok Ibu Kartini, sehingga kakak menjadi salah satu wanita hebat di Indonesia ?
Tentu, karena salah satu yang membuat saya juga semangat untuk berkarir dikarenakan melihat semangatnya sosok Kartini, beliau bisa menjadi guru dan tauladan bagi kita kaum perempuan. Namun pasti akan berbeda antara Kartini dulu dan sekarang, karena jamannya juga sudah berbeda.
Jaman dulu perempuan tanpa kerja tidak apa-apa, tapi sekarang perempuan juga harus kerja demi membantu kebutuhan keluarganya dan itu juga kehebatan perempuan sekarang. Seperti saya yang memimpin organisasi advokat dengan jumlah anggota 40 ribu orang tentunya tidaklah mudah, terlebih mayoritas anggotanya dari kalangan laki-laki namun meskipun perempuan saya juga memiliki ketegasan dalam memimpin organisasi.
Terkait organisasi advokat, apakah Kak Mia bisa ceritakan awal mulanya memimpin KAI ?
Pada awal mula menjadi pemimpin organisasi advokat ini, saya terpilih secara aklamasi namun meskipun begitu bukan disebabkan semata-mata karena saya merupakan adiknya Bang Indra (Indra Sahnun Lubis,red). Tapi karena juga ikut berjuang dalam proses perjalanan KAI dan mereka (anggota,red) melihatnya sendiri.
Saat itu saya dipilih oleh 34 DPD KAI se Indonesia, meskipun ada omongan miring karena saya adiknya Bang Indra. Namun semua itu terbantahkan dengan track record perjuangan saya di organisasi sudah sejak 2008, pertama kali organisasi ini berdiri. Sejak 2008 saya bersama-sama dengan Bang Indra berjuang untuk membesarkan KAI, kita rangkul semua DPD dan korbankan apa saja untuk membesarkan KAI.

Jika dilihat Kongres Advokat Indonesia saat ini sudah maju, bahkan lebih diakui oleh pemerintah dan masyarakat. Bagaimana perasaan Kak Mia melihatnya ?
Saya bersyukur sekali jika KAI sekarang sangat maju diantara organisasi advokat lainnya, terlebih saat itu Bapak Sufmi Dasco Ahmad yang saat ini menjadi Wakil Ketua DPR RI berbicara langsung di Bandung saat kami melakukan Kongres ke-4 beliau mengatakan satu-satunya organisasi advokat yang diakui oleh pemerintah adalah Kongres Advokat Indonesia.
Tentunya apa yang diucapkan oleh beliau pastinya tidak asal bicara, sehingga beliau pun pantas kami jadikan sebagai Ketua Dewan Pengawas KAI. Tidak mungkin beliau mau berada di sini (KAI,red) jika organisasi ini bukanlah yang terbaik sehingga itu juga yang patut kita syukuri dan kami berharap ke depannya bisa lebih besar lagi.
Untuk memimpin sebuah organisasi advokat tentunya tidaklah mudah, apalagi Kakak merupakan seorang perempuan dimana kalau perempuan itu biasanya lemah lembut. Apakah Kak Mia seperti perempuan pada umumnya, atau memiliki perbedaan ?
Sebenarnya meskipun saya merupakan seorang perempuan, namun soal nyali tak bisa diragukan nyatanya saat masa-masa memperjuangkan KAI saya juga selalu ada dibariskan terdepan. Dalam hidup saya mempunyai prinsip, kalau kita benar ngapain harus takut.
Itu juga yang dipesankan oleh abang-abang saya, kita hanya boleh takut kepada Tuhan dan orang tua selebihnya kalau kita benar jalankan saja dan prinsip itu juga yang saya ajarkan kepada para advokat yang ada di KAI sehingga kita disebut juta Advokat Pejuang. Jadi meskipun sebagai perempuan, kita harus memiliki ketegasan apalagi di tengah puluhan ribu anggota yang mayoritas laki-laki.
Bahkan pernah ada seloroh dari anggota KAI, Kak Mia ini baik kepala pun akan dikasihkan kepada kita namun kalau dia marah kepala kita pun hilang dibuatnya jadi saya bukan sosok perempuan lemah juga karena memimpin advokat kalau lemah digorenglah kita.
Apakah keberanian yang Kakak milki saat ini juga belajar dan diambil dari sosok almarhum Bang Indra Sahnun Lubis ?
Ya, saya akui banyak mengambil ilmunya dari Bang Indra terlebih soal keberanian, seringkali saya diajak jika ada sesuatu yang dibicarakan dan harus ada yang dilawan saya sering maju juga. Sehingga itu juga yang menjadi semangat sampai sekarang.

Meskipun demikian, saya juga merupakan sosok ibu di dalam keluarga bukan hanya di kalangan para advokat yang selalu mengayomi mereka. Bisa dibayangkan jika yang tergabung di KAI ini memiliki latar belakang yang berbeda, namun karena sosok saya sebagai ibu bagi mereka maka sampai saat ini masih bisa solid.
Seperti halnya kemarin saat Rakernas di Semarang, ada 35 DPD KAI se Indonesia hadir untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dalam momen itu kita juga mengenang almarhum Bang Indra, atas jasa-jasanya bagaimana dia membentuk dan membesarkan Kongres Advokat Indonesia.
Sebagai ketua umum organisasi advokat pertama dan besar, apakah sudah banyak perempuan yang beranni seperti kakak menjadi seorang advokat ?
Kepada Kartini masa kini ayo maju, jangan mau kalah dengan pria gender perempuan itu harus jalan. Saya pun sangat bangga jika melantik advokat di daerah selalu tanya ada berapa persen dari perempuan? Kalau masih 10% saya tidak mau, pelantikan ke depan minimal harus 30% supaya ada sosok perempuan yang menjadi advokat.
Sehingga pertumbuhan advokat perempuan di KAI pun terus meningkat karena daerah-daerah saya push agar melahirkan advokat-advokat perempuan. Untuk perempuan tidak usah takut untuk menjadi advokat, justru kita harus bangga bisa menjalankan profesi ini meskipun terkesan keras.

Di momen Hari Kartini, pesan apa yang ingin kakak sampaikan kepada generasi muda khususnya perempuan ?
Dalam kesempatan ini saya berpesan kepada generasi muda khususnya perempuan Indonesia, harus mempunyai pendidikan minimal S1 (Strata Saty) karena kalau hanya tingkat SMA sudah sulit jika meniti karir. Apalagi saat ini jangankan hanya SMA, S1 saja kesulitan jika ingin meniti karir untuk itu setidaknya minimal harus memiliki pendidikan sampai S1.
Dengan kita memiliki pendidikan tentunya akan lebih dihargai oleh suami jika sudah menikah. Karena kalau seandainya terjadi sesuatu terhadap suaminya, dia bisa meneruskan rumah tangga ini dengan membiayai anak-anaknya jangan sampai perempuan lemah.
Mohon maaf seandainya dicerai oleh suami, maka nangisnya 2 kali dimana pertama nangis karena tidak ada yang biayain dan kedua nangis karena diceraikan. Tapi kalau dia punya pendidikan dan karir maka nangis cuma sebentar, karena juga punya uang dan karir sehingga bisa membiayai anak-anaknya.
Semangat itu harus dijaga, meskipun kita perempuan tidak minta diceraikan namun untuk jaga-jaga perempuan juga harus punya pendidikan dan memiliki karir sehingga dia akan tetap kuat jika terjadi hal tersebut. Hal tersebut berdasarkan pengalaman saya dulu ketika di Komnas Perempuan sekitar 20 tahun lalu, saat itu saya melihat aduan para perempuan yang menangis karena diceraikan akhirnya saya ajarkan dan kuatkan dengan nasihat tadi.
Kamu harus punya karir, pendidikan atau usaha agar tidak nangis 2 kali ketika diceraikan sehingga mereka pun masih ingat dengan saya sampai sekarang. Ketika ada pembahasan undang-undang gender saya pun ikut mengusulkan agar perempuan Indonesia lebih dihargai dan memiliki semangat.
Demikian wawancara khusus kami dengan SIti Jamaliah Lubis, SH., MH., wanita pertama yang berhasil memimpin organisasi advokat. Berkat tangan dingin dan relasi dia juga Kongres Advokat Indonesia kini sedang memperjuangkan agar Undang-Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003 direvisi karena sudah tidak relevan dengan perkembangan organisasi advokat saat ini.

