Jakarta, Nusantarapos – Sorotan terhadap kinerja PT PLN (Persero) kembali mencuat setelah angka utang perusahaan listrik negara tersebut disebut terus mengalami kenaikan signifikan. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai kondisi keuangan PLN yang membengkak disertai gangguan pemadaman listrik di sejumlah daerah menjadi alasan kuat bagi Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi terhadap Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.
Menurut Uchok Sky, berdasarkan laporan keuangan PLN tahun 2024, total utang perusahaan mencapai Rp736,4 triliun. Komposisi terbesar berasal dari utang obligasi dan sukuk ijarah sebesar Rp334,9 triliun, serta utang bank mencapai Rp202,9 triliun.
“Angka ini sudah sangat besar dan menjadi alarm serius bagi kondisi keuangan PLN,” kata Uchok Sky dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, pada 2025 jumlah utang PLN kembali mengalami kenaikan sekitar Rp67,7 triliun sehingga totalnya mencapai Rp804,2 triliun. Dalam periode tersebut, utang obligasi dan sukuk ijarah tercatat sebesar Rp325,1 triliun, sementara utang bank melonjak menjadi Rp284 triliun.
“Utang bank justru meningkat tajam. Ini menunjukkan ketergantungan pembiayaan yang semakin besar, sementara di sisi lain masyarakat masih menghadapi persoalan blackout dan gangguan listrik di berbagai wilayah,” ujarnya.
Uchok Sky menilai kondisi tersebut mencerminkan buruknya kinerja manajemen PLN di bawah kepemimpinan Darmawan Prasodjo. Ia menyebut indikator keberhasilan sebuah perusahaan BUMN tidak hanya diukur dari ekspansi dan pendanaan, tetapi juga stabilitas layanan kepada masyarakat.
“Kalau utang terus naik tetapi pelayanan listrik masih sering bermasalah, tentu publik mempertanyakan efektivitas kepemimpinan di PLN,” katanya.
Ia pun meminta Presiden Prabowo untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran direksi PLN, termasuk mempertimbangkan pencopotan Darmawan Prasodjo dari jabatan Direktur Utama.
“Sudah saatnya ada langkah tegas. Jangan sampai PLN hanya hebat dalam menumpuk utang, tetapi gagal menjaga layanan dasar agar listrik tetap andal dan tidak sering padam,” tegas Uchok Sky.
Belakangan, pemadaman listrik massal di sejumlah wilayah Sumatera kembali menjadi perhatian publik. Gangguan tersebut memicu kritik terhadap keandalan sistem kelistrikan nasional dan tata kelola PLN sebagai perusahaan penyedia listrik negara.




