BANJARNEGARA,NUSANTARAPOS, – Iringan musik tradisional menggema di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Rabu (15/07/2026). Di tengah semangat pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Tahun Anggaran 2026, masyarakat menghadirkan sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, yakni Tari Sabet Ujungan. Tarian khas masyarakat Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon itu menjadi sambutan istimewa bagi Wakil Bupati Banjarnegara H. Wakhid Jumali, Lc., Dandim 0704/Banjarnegara Letkol Inf Nodelismen Hulu, S.Pd., serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Banjarnegara.
Di bawah terik matahari musim kemarau, gerak para penari tampil penuh semangat. Denting gamelan berpadu dengan irama langkah para pemain Tari Sabet Ujungan, menghadirkan nuansa budaya yang begitu kental. Bagi masyarakat Gumelem, tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol doa dan harapan agar musim kemarau membawa keberkahan, keselamatan, serta hasil panen yang baik bagi para petani.
Salah seorang penari, Sarikun, mengaku bangga dapat terlibat dalam penyambutan tamu kehormatan pada pembukaan TMMD Reguler ke-129. Menurutnya, Tari Sabet Ujungan merupakan warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas Desa Gumelem.
“Kami senang bisa menampilkan kesenian daerah di hadapan para tamu. Semoga tradisi ini tetap lestari dan semakin dikenal oleh masyarakat luas,” ujarnya dengan penuh semangat usai pertunjukan.
Setelah menikmati suguhan budaya tersebut, Wakil Bupati Banjarnegara bersama Dandim 0704/Banjarnegara dan Forkopimda melanjutkan rangkaian kegiatan dengan penanaman pohon sebagai bagian dari program TMMD Reguler ke-129 yang mengusung tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.”
Bibit pohon yang ditanam secara simbolis menjadi lambang kepedulian terhadap lingkungan sekaligus investasi bagi generasi mendatang. Dengan cangkul di tangan, para pimpinan daerah bersama personel TNI dan masyarakat bergotong royong menanam pohon di lokasi yang telah disiapkan. Tepuk tangan warga mengiringi setiap bibit yang ditanam, seolah menjadi doa agar pohon-pohon tersebut tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Wakil Bupati Banjarnegara H. Wakhid Jumali, Lc. mengatakan bahwa pembangunan desa tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan jalan atau fasilitas umum, tetapi juga melalui upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, pohon yang ditanam hari ini akan menjadi warisan berharga bagi anak cucu di masa depan.
Sementara itu, Dandim 0704/Banjarnegara Letkol Inf Nodelismen Hulu, S.Pd. menegaskan bahwa TMMD merupakan program terpadu yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam. Menurutnya, lingkungan yang hijau menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan pembangunan desa.
Kegiatan penanaman pohon ini melengkapi berbagai sasaran TMMD Reguler ke-129 di Desa Gumelem Kulon, mulai dari pembangunan rabat beton, talud, plat beton, rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), pembangunan pos kamling, hingga berbagai kegiatan nonfisik seperti pelayanan kesehatan, donor darah, penyuluhan, dan pemberdayaan masyarakat.
Yang menarik, perpaduan antara budaya lokal dan semangat pembangunan menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan TMMD tahun ini. Penyambutan melalui Tari Sabet Ujungan menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus meninggalkan akar budaya masyarakat. Sebaliknya, budaya menjadi kekuatan yang mempererat kebersamaan sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada para tamu yang hadir.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Warga dari berbagai usia memadati lokasi, menyaksikan pertunjukan budaya, mengikuti penanaman pohon, hingga berinteraksi langsung dengan para pejabat dan personel Satgas TMMD. Suasana penuh keakraban itu menjadi gambaran nyata kemanunggalan antara TNI dan rakyat.
Melalui tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa,” Desa Gumelem Kulon tidak hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur, tetapi juga panggung yang memperlihatkan bagaimana budaya, lingkungan, dan semangat gotong royong dapat berjalan beriringan. Dari gerak Tari Sabet Ujungan hingga bibit pohon yang mulai ditanam, tersimpan pesan bahwa membangun negeri berarti menjaga warisan budaya, merawat alam, dan memperkuat persatuan demi masa depan Banjarnegara yang lebih hijau, maju, dan sejahtera.(Pendimbna).

