Jarak sekitar 39,9 kilometer dari pusat kota bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi warga Desa Tamban Bangun, Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala. Jalan yang belum memadai dan sejumlah jembatan yang menjadi jalur penyeberangan membuat aktivitas masyarakat sehari-hari tidak selalu mudah.
Di desa itu, sungai juga menjadi bagian dari kehidupan warga. Sebagian masyarakat masih menggunakan klotok untuk mengangkut hasil kebun. Sementara di daratan, kendaraan harus melewati akses yang kondisinya belum sepenuhnya layak.
Kondisi tersebut tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat. Sebagian besar warga menggantungkan penghasilan dari alam secara tradisional dengan pendapatan yang relatif rendah. Kelapa dan padi menjadi bagian dari hasil yang menopang kehidupan mereka.
Jalan yang Menentukan Gerak Ekonomi Desa

Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari pertanian dan perkebunan, jalan bukan sekadar sarana untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jalan juga menjadi bagian dari perjalanan hasil bumi, sejak dari lahan hingga dibawa menuju tempat tujuan.
Namun, manfaat sebuah jalan tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bekerja di kebun dan sawah. Setiap pagi, anak-anak desa juga melewati akses tersebut untuk menuju sekolah.
Di tengah perjalanan menuju sekolah, anak-anak terlihat mengayuh sepeda gowes dengan wajah ceria. Mereka berangkat dengan lebih nyaman, menikmati perjalanan yang bagi mereka merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari. Pemandangan sederhana itu memperlihatkan bahwa akses jalan juga berkaitan dengan kehidupan generasi muda desa.
Bagi anak-anak, jalan bukan sekadar infrastruktur. Jalan adalah jalur yang membawa mereka dari rumah menuju sekolah, bertemu teman, dan kembali lagi ke rumah setelah kegiatan belajar selesai.
Kondisi itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Desa Tamban Bangun dipilih sebagai sasaran TMMD ke-129 Kodim 1005/Barito Kuala. Kegiatan tersebut berlangsung mulai 15 Juli hingga 13 Agustus 2026.
Salah satu sasaran fisik utama adalah pengerasan jalan sepanjang 1.650 meter, lebar 3,5 meter, dan ketebalan 0,15 meter. Pekerjaan ini diarahkan untuk meningkatkan aksesibilitas sekaligus membuka akses perekonomian warga.
Perbaikan akses menjadi penting karena wilayah desa masih memiliki sejumlah jalur yang kurang layak dan banyak menggunakan jembatan sebagai penyeberangan. Kondisi tersebut selama ini menjadi bagian dari keseharian warga ketika melakukan aktivitas di dalam maupun keluar wilayah desa.
Dengan akses yang lebih baik, mobilitas masyarakat memiliki pilihan yang lebih luas. Bagi warga yang bekerja di kebun dan sawah, kelancaran jalan berkaitan dengan kegiatan membawa dan mengangkut hasil produksi. Bagi anak-anak, jalan yang sama menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju sekolah.
Bukan Hanya Jalan, Ada Air Bersih dan Rumah Layak Huni

Persoalan warga Tamban Bangun tidak berhenti pada akses transportasi. Kebutuhan dasar seperti air bersih, sanitasi, dan tempat tinggal juga menjadi bagian dari sasaran TMMD.
Masyarakat sebelumnya masih menggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Karena itu, pembuatan sumur bor menjadi salah satu sasaran fisik yang dikerjakan.
Selain sumur bor, pembangunan rumah layak huni dan MCK juga menjadi bagian dari pembangunan. Sasaran tersebut menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari tempat tinggal yang lebih layak hingga fasilitas sanitasi dan air.
Pemilihan sasaran itu berkaitan dengan kondisi desa yang membutuhkan peningkatan fasilitas umum. Jalan penghubung antardesa, akses pertanian, jembatan, sarana air bersih, hingga rumah tidak layak huni menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Senyum Anak-Anak di Tengah Perubahan Desa

Di antara kesibukan pembangunan, ada pemandangan yang lebih sederhana tetapi memberi warna tersendiri: keceriaan anak-anak ketika dikunjungi TNI.
Kedatangan prajurit di lingkungan desa disambut anak-anak dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan. Mereka menjadi bagian dari suasana sosial yang muncul selama kegiatan TMMD berlangsung.
Bagi anak-anak, kehadiran TNI tidak hanya terlihat dari aktivitas pembangunan yang berlangsung di sekitar desa. Perjumpaan langsung dengan prajurit menghadirkan pengalaman berbeda dalam keseharian mereka.
Momen tersebut menjadi sisi human interest dari kegiatan TMMD. Di tengah pekerjaan fisik yang mengubah akses dan fasilitas desa, interaksi sederhana dengan anak-anak memperlihatkan bahwa kehadiran pembangunan juga berlangsung melalui hubungan langsung dengan masyarakat.
Dari Infrastruktur Dasar Menuju Kehidupan yang Lebih Mudah

Kegiatan TMMD di Tamban Bangun juga mencakup berbagai sasaran nonfisik. Sosialisasi wawasan kebangsaan, kamtibmas dan bahaya narkoba, penyuluhan pertanian, program keluarga berencana dan stunting, rekrutmen masuk TNI, serta penanaman pohon menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Program tambahan juga diberikan kepada masyarakat melalui pengobatan gratis, pembagian sembako, pasar murah, dan sunatan massal.
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung di tengah kondisi masyarakat yang masih mengandalkan hasil perkebunan dan pertanian secara tradisional. Kelapa dan padi menjadi bagian dari sumber penghidupan warga dengan tingkat pendapatan yang masih relatif rendah.
Dalam kondisi seperti itu, jalan yang lebih baik memiliki arti yang lebih luas. Ia menjadi bagian dari rantai ekonomi masyarakat, dari aktivitas di kebun dan sawah hingga proses membawa hasil bumi menuju tempat tujuan.
TMMD ke-129 Kodim 1005/Barito Kuala di Desa Tamban Bangun mempertemukan berbagai kebutuhan dasar dalam satu rangkaian pembangunan. Jalan, jembatan, rumah layak huni, MCK, dan sumur bor menjadi bagian dari upaya memperbaiki fasilitas yang digunakan masyarakat.
Namun, di antara semua pekerjaan itu, perubahan juga terlihat dari hal-hal sederhana. Anak-anak yang menyambut kunjungan TNI dengan ceria menjadi bagian dari wajah desa yang sedang berbenah.
Dari desa yang berjarak sekitar 39,9 kilometer dari pusat kota itu, perubahan tidak hanya dihitung dari panjang jalan yang dikeraskan atau jumlah fasilitas yang dibangun. Ada pula akses yang mulai terbuka, kebutuhan dasar yang mulai disentuh, dan suasana sosial yang mempertemukan prajurit dengan masyarakat.
Pada akhirnya, pembangunan di Tamban Bangun berbicara tentang kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: jalan yang lebih layak, air yang lebih memadai, tempat tinggal yang lebih baik, serta ruang bagi masyarakat untuk bergerak dan mengembangkan kehidupannya.

