Jakarta, Nusantarapos – Besarnya aset sebuah bank semestinya menjadi modal untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Namun, bagi Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, besarnya aset Bank Mandiri justru memunculkan pertanyaan serius ketika dibandingkan dengan pertumbuhan laba Bank Central Asia (BCA).
Bank Mandiri memang memiliki aset jauh lebih besar dibandingkan BCA. Berdasarkan laporan keuangan 2025, total aset Bank Mandiri mencapai Rp2.829,95 triliun, sedangkan aset BCA tercatat sekitar Rp1.586,83 triliun. Artinya, aset Bank Mandiri hampir 1,8 kali lipat dari aset BCA.
Namun, ketika berbicara mengenai pertumbuhan laba, gambaran yang muncul berbeda. BCA mampu meningkatkan laba bersih dari sekitar Rp54,84 triliun pada 2024 menjadi Rp57,54 triliun pada 2025. Dengan demikian, pertumbuhan labanya mencapai sekitar Rp2,7 triliun.
Sementara itu, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasian sekitar Rp55,78 triliun pada 2024 dan Rp56,29 triliun pada 2025. Kenaikannya sekitar Rp511 miliar atau 0,93 persen.
Perbedaan pertumbuhan tersebut menjadi sorotan Febri. Menurutnya, ukuran aset yang besar tidak otomatis mencerminkan kemampuan pengelolaan perusahaan yang lebih produktif.
“Bank Mandiri memang lebih besar dari sisi aset. Tetapi kalau kita melihat pertumbuhan laba, BCA menunjukkan perkembangan yang jauh lebih tinggi. Ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi jajaran komisaris dan direksi Bank Mandiri,” ujar Febri, Kamis (1/10/2026).
Ia mengibaratkan kedua bank tersebut seperti dua kebun dengan ukuran berbeda. Kebun pertama memiliki lahan hampir dua kali lebih luas, tanaman lebih banyak, dan sumber daya lebih besar. Namun, ketika musim panen tiba, kebun yang lebih kecil justru menghasilkan peningkatan panen yang jauh lebih tinggi.
“Ketika Bank BCA dan Mandiri diibaratkan dua kebun, satu luasnya hampir dua kali lipat kebun satunya. Tanamannya lebih banyak, tanahnya lebih luas, airnya lebih melimpah. Tapi saat panen, kebun yang lebih kecil bernama BCA menghasilkan pertumbuhan laba Rp2,7 triliun, sedangkan kebun raksasa bernama Bank Mandiri hanya sekitar Rp511 miliar,” katanya.
Bagi Febri, perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa ukuran perusahaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kemampuan mengelola aset, menjaga efisiensi, dan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan juga harus menjadi perhatian utama.
Ia mengingatkan bahwa aset perbankan bukanlah piala yang hanya dipajang untuk menunjukkan kebesaran perusahaan. Aset harus dikelola secara produktif agar memberikan nilai tambah bagi perusahaan, pemegang saham, dan masyarakat.
“Besarnya aset bukan berarti otomatis sehat. Aset itu harus bekerja dan menghasilkan. Kalau aset terus membesar, tetapi pertumbuhan laba berjalan lambat, tentu harus ada evaluasi menyeluruh terhadap strategi bisnis dan efektivitas pengelolaannya,” tegas Febri.
Menurutnya, komisaris dan direksi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa seluruh sumber daya perusahaan dikelola secara optimal. Evaluasi tidak cukup hanya melihat pencapaian target aset atau pertumbuhan kredit, tetapi juga harus menyentuh kualitas keuntungan, efisiensi operasional, dan efektivitas pengambilan keputusan.
Febri menilai, Bank Mandiri perlu menjelaskan kepada publik bagaimana strategi pengelolaan asetnya mampu menghasilkan pertumbuhan keuntungan yang sepadan dengan skala bisnis perusahaan.
Pasalnya, pertumbuhan laba yang lebih lambat tidak serta-merta membuktikan adanya penyimpangan atau kesalahan pengelolaan. Namun, kondisi tersebut tetap layak menjadi bahan evaluasi, terutama ketika dibandingkan dengan bank lain yang memiliki skala aset lebih kecil tetapi mencatat pertumbuhan laba lebih tinggi.
“Nasabah tidak hanya membutuhkan bank yang besar di atas kertas. Mereka membutuhkan bank yang mampu menjaga kepercayaan, mengelola dana secara bertanggung jawab, dan memberikan kinerja yang berkelanjutan. Karena itu, yang perlu diperiksa bukan hanya angka dalam laporan keuangan, tetapi juga bagaimana jajaran pimpinan menjalankan tanggung jawabnya,” pungkas Febri.





