Oleh: Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah
Jakarta, Nusantarapos — Langkah Pengurus Besar Ikatan Alumni (PB-IKA) BEM Nusantara melakukan safari kebangsaan dengan menemui Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menuai beragam tafsir politik. Setelah bertemu Jokowi di Solo pada Senin (15/6/2026), jajaran PB-IKA BEM Nusantara melakukan pertemuan dengan Gibran pada Rabu (17/6/2026).
Secara resmi, organisasi alumni aktivis mahasiswa tersebut menyebut agenda itu sebagai bagian dari konsolidasi kebangsaan sekaligus upaya menyerap pandangan para pemimpin nasional mengenai kepemimpinan generasi muda. Namun di balik agenda resmi tersebut, sejumlah pengamat melihat adanya dimensi politik yang lebih luas.
Mungkinkah, langkah Alumni BEM Nusantara merupakan bagian skenario yang sudah dirancang dan dijalankan untuk menggantikan Prabowo Subianto setelah dua tahun menjadi Presiden? Akankah ucapan Connie Rahakundini menjadi kenyataan?
Rangkaian pertemuan tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari proses konsolidasi jaringan politik dan sosial yang berpotensi memainkan peran penting dalam peta kepemimpinan nasional ke depan.
Skenario Ganti Prabowo
Pertemuan dengan Jokowi dan Gibran tidak bisa dilihat semata-mata sebagai silaturahmi organisasi alumni mahasiswa.
Kalau kita melihat dinamika politik nasional saat ini, tentu setiap pertemuan yang melibatkan kelompok aktivis mahasiswa dan tokoh-tokoh strategis negara memiliki dimensi politik yang menarik untuk dianalisis. Ini bukan sekadar kunjungan biasa.
Pertemuan tersebut, tidak menutup kemungkinan adanya skenario menjadikan Gibran menjadi presiden di tengah jalan menggantikan Prabowo.
Relawan Jokowi tidak ada yang melakukan pembelaan terhadap Prabowo. Bisa jadi Jokowi menggunting dalam lipatan. Dalam politik tidak ada yang tidak mungkin.
Jokowi masih memiliki pengaruh politik yang besar meskipun sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Jaringan relawan, kelompok masyarakat sipil, organisasi kepemudaan hingga komunitas aktivis mahasiswa masih menjadi bagian dari ekosistem politik yang selama ini dekat dengan mantan Walikota Solo tersebut.
IKA BEM Nusantara merupakan salah satu organisasi yang memiliki sumber daya sosial cukup kuat karena anggotanya berasal dari berbagai kampus dan daerah di Indonesia. Ketika organisasi alumni mahasiswa melakukan komunikasi intensif dengan Jokowi dan Gibran dalam waktu berdekatan, tentu muncul pertanyaan mengenai arah konsolidasi yang sedang dibangun.
Salah satu aspek yang menarik adalah narasi mengenai estafet kepemimpinan nasional yang disampaikan oleh pengurus IKA BEM Nusantara.
Basis Dukungan
Istilah estafet kepemimpinan sering kali menjadi kata kunci dalam proses pembentukan opini dan kaderisasi politik jangka panjang.
Dalam perspektif intelijen politik, proses suksesi kepemimpinan tidak pernah dimulai menjelang pemilu semata, melainkan jauh sebelumnya melalui pembentukan jejaring, legitimasi sosial dan penguatan basis dukungan di kalangan generasi muda.
Kalau berbicara mengenai kepemimpinan masa depan, maka otomatis yang dibicarakan adalah figur-figur yang dipandang memiliki peluang pada masa mendatang. Dalam konteks itu, Gibran tentu menjadi salah satu nama yang masuk dalam radar politik nasional.
Posisi Gibran sebagai Wakil Presiden membuatnya memiliki keuntungan politik yang tidak dimiliki tokoh muda lainnya. Selain faktor jabatan, Gibran juga memiliki kedekatan dengan jaringan politik Jokowi yang selama satu dekade terakhir menjadi salah satu kekuatan dominan dalam politik Indonesia.
Analisis bahwa berbagai kelompok pendukung Jokowi kemungkinan mulai memikirkan berbagai skenario politik jangka panjang, termasuk skenario kontinjensi apabila terjadi perubahan besar dalam situasi nasional.
Dalam dunia intelijen politik selalu ada perencanaan berbagai kemungkinan. Misalnya jika terjadi krisis ekonomi, gejolak sosial atau perubahan konstelasi politik yang signifikan, siapa figur yang dianggap siap melanjutkan kepemimpinan nasional.
Dalam skenario hipotetis tersebut, Gibran berpotensi menjadi salah satu figur yang dipersiapkan oleh jaringan pendukung Jokowi.
Hal itu merupakan adanya upaya memperkuat legitimasi Gibran di kalangan kelompok muda, termasuk melalui komunikasi dengan organisasi-organisasi yang memiliki akar kuat di lingkungan kampus.
Kalau membaca tanda-tandanya, ada upaya membangun dukungan jangka panjang terhadap Gibran. Apakah itu untuk 2029 atau skenario lain, tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan. Tetapi konsolidasi politik biasanya memang dimulai dari sekarang.
Jokowi masih akan menjadi faktor penting dalam percaturan politik nasional beberapa tahun ke depan. Meskipun tidak lagi berada di Istana, pengaruh Jokowi terhadap elite politik, relawan dan sejumlah kelompok masyarakat masih sangat besar.
Karena itu, setiap pertemuan antara organisasi nasional dengan Jokowi selalu memiliki makna politik yang lebih luas dibandingkan sekadar silaturahmi. Jokowi saat ini ibarat seorang king maker. Beliau tidak lagi memegang kekuasaan formal sebagai presiden, tetapi masih memiliki pengaruh yang signifikan dalam pembentukan opini dan arah dukungan politik.
Pertemuan IKA BEM Nusantara dengan Jokowi dan Gibran dapat dibaca sebagai upaya membangun hubungan strategis dengan dua figur yang dinilai masih memiliki pengaruh besar terhadap arah politik nasional.



