SIDOARJO, NUSANTARAPOS – Gelombang unjuk rasa memprotes pemberitaan Majalah Tempo yang berujung melukai kader dan pengurus Partai Nasdem terus bermunculan di sejumlah daerah di tanah air, termasuk di Sidoarjo.
Ratusan kader, pengurus dan simpatisan dari 18 kecamatan berkumpul di depan kantor Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Nasdem Sidoarjo, di Jalan Monginsidi Sidoklumpuk. Dalam orasinya, Ketua DPD Partai Nasdem Sidoarjo, Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom menuntut permintaan maaf Majalah Tempo atas terbitnya liputan utama yang condong mendiskreditkan Surya Paloh dan Partai Nasdem.
“Hari ini, total sekitar 200 orang pengurus Partai Nasdem Sidoarjo akan bergabung dengan massa aksi dari DPD Partai Nasdem Gresik dan Surabaya berkumpul di kantor DPW Partai Nasdem Jawa Timur. Aksi ini digelar sebagai bentuk protes atas terbitnya liputan utama Majalah Tempo yang berujung melukai Ketua Umum Surya Paloh dan Partai Nasdem,” ucap Zakaria Dimas Pratama melalui pengeras suara di atas mobil komando, Rabu (15/4/2026).
Menurut Dimas, Majalah Tempo harus memberikan klarifikasi atas sampul karikatur dan isi berita edisi 13-16 April 2026, yang memuat liputan utama dengan judul “PT Nasdem Indonesia Raya Tbk”, cenderung merendahkan Ketua Umum Partai Nasdem dan Kader. Ia menegaskan Partai Nasdem tidak anti kritik, Namun demikian cara penyajian berita dalam menghadirkan kritik harus tetap proporsional.
“Kami tidak anti kritik dengan pemberitaan, justru kami sangat menghargai kritik. Karena kritik bagian dari demokrasi. Tetapi ketika kritik itu kehilangan proporsi atau bergeser menjadi insinuasi atau tuduhan tersembunyi dan bersifat merendahkan, maka kritik itu sudah kehilangan fungsi kontrolnya,” tegas Dimas panggilan akrab politisi muda ini.
Dalam konteks pemberitaan serta cover majalah Tempo, lanjutnya, karena Ketua Umum Partai Nasdem dilukai, maka seluruh kader dan pengurus ikut terluka. Dimas mengakui pers merupakan satu dari empat pilar demokrasi. Namun demikian, pers sebagai pilar bisa rapuh jika media tidak berdiri diatas etika, akurasi dan keberimbangan.
“Kami mendesak Tempo melakukan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat atas pemberitaan yang dibuat. Protes ini dilayangkan karena Ketua Umum dan Kader Partai Nasdem telah dilukai,” tandas anggota Komisi C DPRD Kabupaten Sidoarjo ini.
Dalam konteks ini, Dimas memandang bahwa pemberitaan yang disajikan oleh media Tempo menunjukan kecenderungan yang tidak proporsional. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi kader Partai Nasdem.
“Alih-alih menghadirkan kritik yang berimbang dan berbasis fakta. Pemberitaan tersebut justru berpotensi mendiskreditkan ketua umum kami yaitu Bapak Surya Paloh serta Partai Nasdem secara keseluruhan,” akunya.
Peristiwa ini, kata Dimas, menjadi pengingat sekaligus pembelajaran bagi seluruh media agar tetap mengedepankan keberimbangan dan etika dalam menyampaikan kritik. Hal lain yang tidak kalah penting, berita harus sesuai fakta dan tidak boleh mendeskreditkan personal serta lembaga.
“Luruskan fakta, jaga etika, kritik tanpa etika bukan demokrasi. Tapi itu manipulasi. Kritik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Kritik menjadi penyeimbang, pengingat sekaligus ruang koreksi bagi setiap kekuatan politik. Namun ketika kritik kehilangan proporsi dan bergeser menjadi tuduhan yang menyesatkan maka ia tidak lagi menjalankan fungsi kontrol sosial, melainkan berubah menjadi alat pembentukan opini yang menyesatkan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Majalah Tempo menuliskan keterangan mengenai pertemuan Presiden Prabowo dengan Surya Paloh yang disebut berlangsung secara tertutup, terkait isu penggabungan Partai Nasdem dan Gerindra. Sedangkan dampak yang muncul dari sampul laporan utama sehingga menyinggung Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, serta kader partai, redaksi Tempo juga menyampaikan permohonan maaf. (Aryo).

