News  

Melalui Program KTN, BNPT Berdayakan 250 Napiter

MALANG, NUSANTARAPOS – BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan terobosan dan inovasi untuk memberdayakan mantan narapidana terorisme (napiter) dan penyintas teroris. Salah satu yang dilakukan BNPT dengan membentuk Kawasan Terpadu Nusantara (KTN) di lima daerah. Yaitu, Garut (Jawa Barat), Temanggung (Jawa Tengah), Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Malang (Jawa Timur) dan Morowali (Sulawesi Tengah).

Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar menyatakan, program pengembangan KTN merupakan salah satu bentuk soft approach alias pendekatan lunak yang mengedepankan aspek kesejahteraan. Caranya, dengan memberikan fasilitas kepada mitra deradikalisasi, mantan napiter, penyintas dan masyarakat untuk mengembangkan produktivitas ekonomi.

Kawasan ini juga dijadikan sebagai sarana reintegrasi sosial bagi mitra deradikalisasi agar memiliki kemandirian ekonomi.

“KTN diharapkan dapat mengantisipasi aksi radikalisme dan terorisme dengan pendekatan humanis guna meningkatkan perekonomian masyarakat. Khususnya di wilayah KTN, melalui dukungan serta bantuan ekonomi, sosial, budaya dan pariwisata,” kata Boy, saat Panen Raya Perdana Jagung di KTN, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kemarin, Kamis (14/7).

Eks Kapolda Papua itu bilang, sampai saat ini, di lima daerah tersebut sudah ada ratusan orang eks napiter dan penyintas korban terorisme yang mengikuti program KTN. Kegiatan mereka di KTN terus dibina, dibimbing dan dipantau oleh BNPT dan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.

“Semuanya, di lima daerah itu ada sekitar 250 orang, mantan napiter dan penyintas ataupun korban terorisme,” ungkapnya.
Menurutnya, para eks napiter diberikan peluang melalui kegiatan positif berupa kemandirian ekonomi. Diberikannya fasilitas bagi mereka, merupakan amanat yang tercantum dalam undang-undang.

“BNPT memiliki tugas. Salah satunya deradikalisasi. Dalam deradikalisasi ini ada yang namanya reintegrasi. Inilah yang kami fasilitasi dalam bentuk peningkatan kesejahteraan, agar para eks narapidana teroris dan masyarakat dapat mandiri,” terang Boy.

Dia juga menjelaskan, penanganan terhadap mantan napiter merupakan tanggung jawab
negara yang harus dihadapi bersama-sama. Implementasi konsep dalam menangkal paham radikalisme terorisme harus melibatkan banyak pihak.

Sebab, ancaman radikalisme dan terorisme, merupakan musuh bersama, musuh negara.
“Makanya, sifatnya pentahelix atau multi pihak. Kami libatkan juga kementerian, lembaga, Pemerintah Daerah dan masyarakat,” tuturnya.

Nah, KTN Turen merupakan implementasi konsep pentahelix penanggulangan terorisme.
Dalam gelaran ini, BNPT berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Universitas Islam Malang (Unisma), PT Kereta Api Indonesia, Corteva Agriscience, MIND ID, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Smelting, Koperasi Artha Harmoni Bangsa serta masyarakat.
Dalam kesempatan ini, Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai mitra BNPT dalam tim Sinergisitas turut mendukung operasionalisasi KTN Turen, memberikan bantuan 3 unit traktor roda dua, 2 unit pompa air, 2 unit hand sprayer, dan 1 unit cultivator.

Memiliki luas 13,5 hektare, KTN Turen menghasilkan sekitar 80 ton jagung yang akan diolah menjadi benih jagung.
Lahan ini diusahakan oleh mitra deradikalisasi dan masyarakat setempat, dengan harapan menjadi sarana pencegahan terorisme sekaligus reintegrasi sosial bagi mitra deradikalisasi. KTN Turen juga diharapkan mampu menjadi bagian dari ketahanan pangan wilayah.

Boy menyatakan, hasil panen yang dilakukan ini dalam rangka meningkatkan kegiatan unit usaha dari koperasi yang telah dibentuk.
“Kami pilih di Turen karena antusias dari warga yang bagus. Ini kerja sama dengan Pemkab Malang yang ditopang Pemprov Jatim,” jelas eks Kadiv Humas Polri.

Jenderal polisi bintang tiga ini berharap, mitra eks napiter diharap mampu meningkatkan perekonomiannya. Karena dalam hal ini, panen raya tersebut memang digunakan untuk mengakomodir para eks napiter yang sudah masuk dalam jaringan BNPT untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Kami juga berharap, akhirnya tempat ini jadi bagian perekonomian di Kecamatan Turen yang melibatkan mitra deradikalisasi,” harapnya.

Boy juga mengapresiasi Pemkab Malang yang siap sedia bekerja sama tanahnya digunakan untuk menanam benih tanaman. Dengan kata lain, hal itu membuat perekonomian masyarakat sekitar Kecamatan Turen meningkat.

Menurut Boy, ini layak diapresiasi. Sebab, tidak semua faerah berkenan lahannya digunakan seperti ini.

“Ini memberikan hasil, dan kami optimis di seluruh 16 hektare ini bisa menghasilkan yang lebih besar lagi. Apalagi Pemkab Malang support juga,” tuturnya.
Selain perkebunan, KTN Turen juga bergerak dalam bidang peternakan dan pariwisata edukatif.

Dalam kawasan KTN ini telah dibangun pula Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan (WARUNG) NKRI sebagai sarana membumikan nilai-nilai kebangsaan.

Ke depannya, KTN Turen akan mengembangkan budidaya ikan, serta program pertanian tanaman pangan dan tanaman nonpangan dengan hasil yang dapat dijual kepada masyarakat.
Sedangkan untuk pengembangan peternakan, Unisma akan mengembangkan peternakan kambing boerpe, sapi potong dan ayam broiler.

Dalam acara yang sama, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi mendukung penuh KTN lantaran sebagai bagian dari program ketahanan pangan.

“Kementerian Pertanian akan membantu sepenuh tenaga dan memberikan yang dibutuhkan oleh BNPT,” ujarnya.
Dia menyebut, program KTN yang digagas oleh BNPT ini mendapat perhatian khusus dari Presiden Jokowi.

Sementara, Bupati Malang HM Sanusi menyatakan, puluhan haktare yang telah disediakan itu merupakan pilot project yang dapat dicontoh oleh daerah lain. Dia berharap, lahan tersebut digunakan semaksimal mungkin.

“Ini bentuk kepedulian kami, kepedulian negara kepada masyarakat,” ungkap Sanusi.(*)