MUSIK  

Pertunjukan ‘Bulang Trang, Nona’ Ajak Penonton Memaknai Patriotisme dalam Keseharian

Jakarta, Nusantarapos – Galeri Indonesia Kaya menghadirkan pertunjukan ‘Bulang Trang, Nona’ karya Teater Pandora untuk mengajak masyarakat memaknai kembali patriotisme melalui kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai bagian dari rangkaian pertunjukan akhir pekan yang mengangkat tema perjuangan di bulan kemerdekaan Indonesia, pertunjukan ini mengisahkan tentang cinta, keluarga, dan kenangan sebagai wujud perjuangan yang tetap relevan hingga kini.

Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya menyampaikan, “Di bulan kemerdekaan, kami ingin mengajak masyarakat memaknai semangat perjuangan dari perspektif yang berbeda. Melalui beragam pertunjukan yang kami hadirkan dalam program Prime Time di Galeri Indonesia Kaya, kami berharap masyarakat dapat melihat bahwa semangat mencintai bangsa tidak hanya lahir dari medan perjuangan, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari.

‘Bulang Trang, Nona’ menunjukkan bagaimana keluarga, cinta, dan nilai-nilai yang terus dijaga menjadi wujud patriotisme yang tetap relevan hingga kini. Kami berharap pertunjukan ini dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan Indonesia,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).

Disutradarai oleh Yoga Mohamad, Bulang Trang, Nona, yang dalam bahasa Ambon berarti “Terang Bulan, Nona”, mengisahkan ingatan seorang pejuang muda bernama Wilson tentang masa kecilnya saat tinggal bersama Mama dan ketiga tantenya di Ambon pada tahun 1936. Di tengah tugasnya sebagai pejuang di Irian Barat, Wilson mulai kehilangan serpihan memorinya akibat penyakit malaria yang dideritanya. Melalui ingatan-ingatan yang perlahan memudar, penonton diajak menyusuri kisah keluarga, persahabatan, dan cinta yang membentuk perjalanan hidupnya.

Sebelum pertunjukan dimulai, Teater Pandora menghadirkan pengalaman imersif bertajuk Pesta Trang Bulan di area selasar Galeri Indonesia Kaya. Penonton akan diajak memasuki suasana pesta dansa muda-mudi yang menjadi bagian dari cerita melalui iringan musik dari Orkes Antariksa, lomba pantun rayu, serta beragam elemen interaktif yang membawa penonton merasakan atmosfer Ambon pada masa itu. Setelah mengikuti rangkaian pengalaman tersebut, penonton akan memasuki auditorium untuk menyaksikan pertunjukan utama.

Dengan pendekatan memory play, pertunjukan ini dimainkan secara realis dan dinarasikan ulang melalui permainan ingatan untuk menghadirkan refleksi tentang makna perjuangan dari perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya diwujudkan melalui pengorbanan di medan perang, tetapi juga melalui kesetiaan menjaga keluarga, keberanian mempertahankan nilai-nilai kehidupan, serta cinta yang tulus kepada sesama dan tanah air. Di tengah berbagai perubahan zaman, lakon ini mengajak penonton untuk melihat bahwa patriotisme sejatinya berakar dari rasa cinta yang terus dijaga.

Selama lebih dari 60 menit, Bulang Trang, Nona menghadirkan perpaduan drama realis dan pengalaman imersif yang membawa penonton mengikuti perjalanan ingatan Wilson secara emosional. Dengan balutan musik, tata artistik, dan alur penceritaan yang mengalir melalui serpihan-serpihan memori, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan sekaligus mengajak penonton merefleksikan kembali makna perjuangan dalam kehidupan masa kini.

Yoga Mohamad, Sutradara Bulang Trang, Nona mengatakan, “Hari ini patriotisme sering kali hanya dimaknai sebagai kisah kepahlawanan atau perjuangan di medan perang. Padahal, setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pertunjukan Bulang Trang, Nona, kami ingin mengajak penonton melihat bahwa menjaga keluarga, merawat kenangan, mencintai sesama, dan terus bertahan menghadapi berbagai tantangan hidup juga merupakan bentuk patriotisme. Sebab pada akhirnya, patriotisme sejatinya adalah cinta.”

Pertunjukan Bulang Trang, Nona tahun ini menjadi kolaborasi ketujuh Teater Pandora bersama Galeri Indonesia Kaya setelah sebelumnya menghadirkan Perkawinan (2016), Seruni (2017), Sementara Tetangga (2018), Bulang Trang, Nona (2019), Kerlip (2023), dan Kurasi di Muka Rumah (2025). Didirikan pada tahun 2014 oleh mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia dari berbagai fakultas, Teater Pandora merupakan kelompok teater independen yang telah menghasilkan lebih dari 30 produksi pementasan selama lebih dari satu dekade berkarya. Berbagai karyanya telah disaksikan oleh lebih dari 15.000 penonton di panggung konvensional maupun non-konvensional.