Sugeng Nugroho: “Filosofi Ikhlas Merupakan Prinsip Saya”

oleh -

NUSANTARAPOS,-Sugeng Nugroho yang merupakan ikut salah satu dari sekian banyak bakal calon Bupati Pacitan memiliki prinsip tersendiri dalam dirinya ikut dalam bursa Pilkada di Kabupaten Pacitan. Dengan semboyan dari pepatah jawa yang berbunyi, ” SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE” merupakan sebuah ungkapan yang memiliki arti bahwa, ” SEDIKIT MENGHARAPKAN IMBALAN, BANYAK BEKERJA”.

Ia menilai bahwa kalimat tersebut mengandung arti yang menjunjung nilai luhur  sebagai orang timur,  dimana nasehat tersebut untuk tidak selalu mendasarkan pekerjaan karena imbalan.

Dirinya menceritakan, berdasarkan data dari Ikhlas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan namun tidak mudah dilaksanakan.

Banyak nasehat supaya kita selalu bekerja dengan ikhlas agar hidup lebih tenang dan bahagia.

” Dalam merealisasikan  perbuatan baik, orang bisa menjadi cemas bila terjebak oleh narasi sebagian orang yang menyatakan bahwa riya’ menghapuskan amal saleh, dan seseorang tidak mendapat pahala dari amal yang dia lakukan apabila masih ada riya’. Bahkan ia telah berbuat dosa yang akan dia peroleh akibatnya pada hari Kiamat bila masih ada riya’ di dalam hatinya”, kata Sugeng dalam pers rilisnya, Kamis (16/1/20).

Oleh karenanya, menurut Sugeng,  perlu memahami makna ikhlas secara menyeluruh mengenai hakekat ikhlas yang sering diilustrasikan dengan filosofi gula dan kopi.

 

“Bila gula dicampur kopi dan dimasak dengan air namanya “Kopi Manis”, bukan Kopi Gula. Disitu nama gula tidak disebut. Bila gula dicampur teh dan dimasak dengan air namanya “Teh Manis”, bukan Teh Gula. Disitu nama gula juga tidak disebut. Tetapi jika rasa kopinya pahit, siapa yang disalahkan? Tentu gula-lah yang disalahkan, karena terlalu sedikit hingga rasanya menjadi pahit. Dan jika rasa kopi terlalu manis, siapa yang disalahkan? Tentu gula lagi yang disalahkan, karena terlalu banyak hingga rasanya menjadi kemanisan,” tuturnya.

 

Dalam akhir perkataannya, fenomena kehidupan, menurut Sugeng, kadang kebaikan tak pernah disebut orang, tapi kesalahan akan selalu dibesar – besarkan.

“Saya menyadari bila ada diposisi sebagai pejabat, harus mempersiapkan diri menajadi sosok pemimpin yang arif dan bijaksana, dalam mensikapi kritikan dari warga yang akan saya pimpin nanti”, pungkasnya.(EDTR)