Warga Minut Soroti Sompie Singal dan Joune Ganda

oleh -
Saksi Sompie Singal saat memberikan keterangan di persidangan yang digelar di PN Manado.(Foto:IST)

Minut, NUSANTARAPOS.CO.ID – Majunya Sompie Singal dan Joune Ganda dalam gelaran Pilkada 2020 menjadi sorotan warga Minahasa Utara (Minut). Pasalnya, semasa menjabat Sompie Singal terindikasi menjadi aktor intelektual kasus pengangkatan sekretaris desa (sekdes).

Sompie Singal bekas Bupati Minut diduga berperan dalam manipulasi data terkait jabatan 98 sekretaris desa (Sekdes). Dia pun maju dengan tanpa merasa berdosa. Sampai di Desa Lihuna, Kecamatan Likupang Barat memiliki tiga Sekdes.

Strategi politik tingkat tinggi – meskipun untuk perhelatan lokal Sulawesi Utara. Sompie Singal, yang masih ber-KTA PDIP, mendekati Golkar. Sompie memainkan praktik politik text-book, politik hanyalah alat kekuasaan.

“Iya kenapa Partai Golkar tidak mengajukan kadernya sendiri?” tanya Mickael Almy Rondonuwu, warga Winawerot, Minut, Kamis (27/8/2020).

Mickael seperti banyak warga Minut sesungguhnya menanti kehadiran sosok pimpinan daerah yang bersih, tidak tersangkut kasus hukum.

Sompie Singal pernah muncul di Pengadilan Negeri Manado dalam perkara korupsi. Dia djiadikan saksi kasus tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh MHWP alias Maximilian. Tidak menutup kemungkinan dia bisa menjadi terdakwa dalam kasus pengangkatan sekdes fiktif.

“Kami warga Minut tidak menginginkan calon bupati yang bermasalah hukum,” kata Jhon Mantiri warga Kecamatan Dimembe Kamis (27/8/2020).

Warga Minut menginginkan sosok yang peduli rakyat. Yang bersih dan mewakili rakyat kebanyakan. Kerinduan hadirnya sosok seperti Jokowi, yang lahir bukan dari kalangan politikus, menjadi harapan rakyat Minut.

“Iyo, torang (kami) suka figur baru untuk perubahan di Minut,” kata Soleman Manua, seorang warga Desa Dimembe Kamis (27/8/2020).

Kekuasaan, politik, dan uang itu memabukkan. Hakikat kekuasaan adalah alat mencari uang. Uang pun digunakan untuk melanggengkan kekuasatan. Rakyat dibodohi. Rakyat dalam Pilkada menjadi alat legitimasi melanggengkan klan penguasa.

“Ya, kekuasaan di tangan politikus selama puluhan tahun tidak memberikan perubahan signifikan di Minut ,” kata Soleman Manua.

Permainan politik tidak mengenal etika. Rakyat pun disuguhi calon bupati oleh partai politik. Kekuasaan dan uang telah menciptakan keserakahan. Dari pucuk keuasaan di provinsi bermain. Upaya untuk menggenggam kekuasan dilakukan dengan segala cara.

Informasi dari Polda dan Mabes Polri yang beredar di WhatsApp Group tentang adanya surat Laporan Polisi menyangkut Joune Ganda yang dilaporkan oleh Jhonson Lengkong Dengah. Tudingan dugaan penyerobotan tanah yang dilakukan oleh Joune Ganda dan dua temannya.

Rakyat Minut pun menyoroti calon seperti Joune Ganda yang diduga terlibat penyerobotan tanah. Calon bupati mereka diharapkan tidak tersangkut kasus hukum.

“Torang (kami) cari sosok calon bupati yang bersih, yang bisa menegakkan peraturan, bukan terlibat masalah hukum,” kata Fransiskus Karanaung yang tinggal di Wori.

Gelaran Pilkada Minut 2020 saat ini tengah diramaikan dengan manuver partai politik dan pasangan calon bupati. Nasib rakyat Minut tengah ditentukan oleh partai politik. Sosok-sosok mumpuni dan dikehendaki rakyat harus didukung oleh partai politik. ***