Seminar Nasional Kebudayaan Pacitan Lahirkan Motivasi Baru

oleh -

PACITAN,NUSANTARAPOS,- “Seminar nasional Kebudayaan” bertema ” Nguri – Uri Budaya Dalam Rangka Menyejahterakan Masyarakat Pacitan” yang digelar di Pendopo Kabupaten Pacitan, Sabtu (15/2 ), melahirkan komitmen baru yang diharapkan dapat memperkuat karakter budaya yang ada di Kabupaten Pacitan.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan menyebut salah satu sebagai motivasi itu adalah pencanangan agenda makro-strategis dengan menjadikan jalan kebudayaan sebagai jalan pembangunan Daerah.

Salah satu yang menarik disampaikan oleh Nara Sumber KH. Agus Sunyoto mengatakan, zaman kuno orang yang didudik dipadepokan sudah mampu menujukan bukti kecerdasan.

” Mereka cerdas tidak hanya akalnya tetapi hati nuraninya juga ikut cerdas,” kata KH.Agus.

Lanjut KH. Agus, bisa dibayangkan pada abad pertama masehi bahwa wong ( orang ) Indonesia sudah punya kalender, artinya orang jawa mampu menyusun kalender dengan tidak tanggung – tanggung sekaligus tiga kalender yang dibikin.

” Satu yang disebut Suryo Sengkolo merupakan kalender berdasarkan perhitungan garis edar dari matahari yang setahun ada 365 hari, kalender yang kedua disebut Condro Sengkolo merupakan kalender berdasarkan perhitungan qomariyah atau rembulan, dan yang ketiga adalah kalender yang berdasarkan musim yang disebut Pranoto Muso,” penjelasan yang disampaikan oleh KH. Agus didepan para peserta seminar.

Dengan demikian KH Agus menegaskan tidak ada bangsa didunia punya tiga jenis kalender kecuali wong Jowo dan jika dihitung dengan tahun masehi jatuh pada angka 78 masehi, artinya lahirnya kalender jawa pada tahun satu jawa sama dengan tahun 78 masehi, selisih 78 tahun.

Salah satu peserta sekaligus budayawan melenial bagian Litbang di Dewan Kesenian Moh. Nur Ikhwan yang mendapat julukan Nur Kompleh ini mengatakan, seminar ini juga merekomendasikan pencarian bentuk-bentuk implementasi budaya kewargaan yang menumbuhkan rasa cinta tanah air dan rasa persatuan Indonesia dengan kesadaran perwujudan nilai-nilai Pancasila melalui bentuk-bentuk budaya daerah dan kearifan lokal.

“Mencari makna dan merumuskan bentuk operasionalisasi instrumental yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dari nilai-nilai intrinsik kearifan lokal yang kita warisi dari masa lalu,” ucap Nur Kompleh.

Sementara di tataran mikro-taktis, seminar ini melahirkan agenda kampanye Daerah bahagia untuk mengajak semua kalangan dan masyarakat luas melakukan kerja bersama memajukan kebudayaan.

Membangun narasi yang kuat dari sumber-sumber kebudayaan nasional juga penting untuk membangun kebanggaan di daerah Kabupaten Pacitan dan menguatkan jati diri sebagai putra daerah serta mengembangkan produk-produk ekonomi kreatif.

“Selain itu membuka ruang narasi yang menumbuhkan kreatifitas dan inventivitas di tengah masyarakat bagi berkembangnya produk kebudayaan dan menjadi sumber ekonomi baru,” ucapnya.

Terakhir, seminar juga merekomendasikan inovasi dan motivasi baru dalam memajukan kebudayaan dan menjadikan teknologi sebagai sahabat untuk memajukan kesejahteraan.

“Tentunya tanpa meninggalkan nilai-nilai utama kebudayaan bangsa seperti gotong royong dan tenggang rasa,” ucap Nur kompleh.