Dialog Kepemudaan, Generasi Muda Harus Aktif Hentikan Debat Politik Pasca Pilpres

oleh -

Sebanyak 80 orang mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi dan Organisasi Pemuda di Jakarta menggelar dialog kepemudaan yang bekerja sama dengan Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI, dengan tema “Generasi Muda Pelopor Persatuan Pasca Pilpres 2019,” di Gedung IASTH Universitas Indonesia Salemba, Jakarta, Rabu (24/7/19)

Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI, Dr Muhammad Luthfi dalam sambutannya mengatakan, generasi muda sebagai bonus demografi sangat menguntungkan bagi bangsa Indonesia, bila dimanfaatkan dengan baik. “Generasi muda harus terlibat aktif menyetop perdebatan politik usai pertemuan para elit politk beberapa waktu lalu, para pemuda harus menjaga tali silaturahmi dan persatuan dalam upaya tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Founder Positive Movement, Inayah wahid, mengajak generasi muda mengambil peran penting untuk menghentikan dikotomi sebutan dua kubu politik, bukan malah memperburuknya. Untuk itu, lanjutnya, banyak yang bisa dilakukan oleh generasi muda untuk meraih masa depan bangsa agar lebih baik. “Meningkatkan literasi baik politik ataupun digital tanpa bergantung pada pemerintah atau swasta, minimal dapat melakukan untuk diri sendiri dan dilanjut ke lingkungan sekitarnya, sehingga dapat turut sert a meredam banyaknya bully-an terkait rekonsiliasi, di mana banyak masyarakat bahkan menganggap rekonsilasi bukan sesuatu yang penting dan bersifat transaksional,” ajaknya.

Narasumber lain, Stafsus BPIP, Romo Benny Susetyo mengatakan, generasi muda dan media massa dapat menjadi komunitas pemutus kata yang kritis agar bisa mengatasi derasnya kabar hoaks Pasca Pemilu. “Sebenarnya generasi muda banyak yang terjebak oleh rekayasa politik yang memanfaatkan simbol agama politik. Hal ini menyebabkan pembelahan yang memecah persatuan dan menghancurkan peradaban. Oleh sebab itu, jangan sampai ilusi kita dimainkan dan dimanfaatkan oleh permainan politik,” jelasnya.

Ia mengajak, generasi muda tidak lagi menjadi agen-agen yang menyalurkan kebencian dan kecemasan, justru harus menjadi agen untuk merajut kebersamaan dengan internalisasi nilai-nilai keragaman, kemajemukan, dan proses menjadi Indonesia. “Generasi muda harus aktif falam kegiatan cross cultre dan pembatinan nilai-nilai Pancasila, agar lebih kritis menyikapi perubahan yang bersebarangan dengan karakter bangsa. Selain itu, pembelahan warga negara melalui politisasi agama bisa dicegah melalui media massa dengan mendidik masyarakat. Genrasi muda diharapkan menjadi intelektual organik bukan intelekual karbitan,” ajaknya

Narasumber terakhir, Kaprodi Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Dr. Diding Rosidin, Msi, dalam kesempatan itu mengatakan bahwa rekonsilasi memang sudah selesai tetapi masih menyentuk para elit politik, belum pada level masyarakat. Padahal menurutnya, kalangan masyarakat bawah juga membutuhkan rekonsiliasi agar tercipta kesadaran bahwa persatuan merupakan hakikat sebuah bangsa dalam menyongsong masa depan.

Dalam diskusi itu dia mengajak generasi muda untuk memupuk kekritisan mahasiswa, sehingga mampu memainkan perannya dalam konteks Nasional. “Tantangan anak muda yakni pragmatisme, cenderung pada hal-hal yang instan dan ingin segera cepat dapat. Dalam kesempatan selanjutnya, generasi muda diharapkan dapat mengambil alih partai agar tingkat kepercayaan publik meningkat. Hal ini dikarenakan kepercayaan publik yang terendah adalah terhadap parpol menyusul kemudian DPR,” paparnya.