Mahasiswa Universitas Pakuan Dukung Penyelesaian Kasus HAM dengan Cara Dialog

oleh -

Jakarta, NusantaraPos – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Pakuan menilai cara-cara dialogis dalam penyelesaian kasus-kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia merupakan salah satu cara terbaik yang bisa ditempuh. Upaya ini menjadi tepat dibandingkan turun ke jalan apalagi sampai berujung anarkis.

“Cara-cara dialogis lebih baik ketimbang turun ke jalan dan ujungnya anarkis,” ujar pengurus BEM FH Universitas Pakuan, Sintia Bakara, di sela dialog kebangsaan ‘Refleksi Akhir Tahun: Peran Mahasiswa Merawat Kebhinekaan dalam Menjaga NKRI’ di Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat, Senin (22/12/2019).

Pihaknya pun mengajak para mahasiswa lainnya menjaga dan merawat HAM. Bukan hanya kelompok intelektual, upaya ini juga harus dilakukan bersama-sama termasuk oleh aparat kepolisian dan TNI.

“Walau bagaimana pun itu (kasus HAM) permasalahan yang tetap harus diselesaikan. Bila perlu seluruh universitas diundang kita obrolkan baik-baik bersama seluruh aparat pemerintah,” kata Ketua BEM FH Universitas Pakuan Wiguna Hade Wardhana.

“Bukan hanya mahasiswa saja yang berpikir secara luas, tapi juga aparatur negara lainnya dalam menjaga dan merawat ham itu sendiri,” imbuhnya.

Menjaga NKRI dan Kebhinekaannya

Adapun tema dialog kebangsaan mereka pilih, lantaran tantangan terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kebhinekaan akhir-akhir ini dinilai deras bergulir. Salah satunya datang dari kelompok yang menginginkan berdirinya negara khilafah.

“Sekarang paling booming itu masalah tentang HAM, radikalisme. Kita angkat tema yang bisa mewakili semua itu, gimana sih peran mahasiswa bisa menjaga keutuhannya. Kita mengundang aparatur-aparatur karena kita berbicara dari segi ketahanannya,” kata Sintia, yang juga koordinator kegiatan dialog.

Mahasiswa mengajak upaya mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah dan yang lainnya, di Indonesia harus dilawan. Sebab, Indonesia berdiri atas dasar kesepakatan dari seluruh agama dan kelompok. Termasuk menyepakati sistem Pancasila di dalamnya.

“Khilafah harus dilawan, karena NKRI terbentuk atas dasar kesepakatan dari semua agama. Pancasila itu sudah final, semua agama itu sudah menerima, semua unsur sudah menerima. Jikalau ada pihak-pihak yang ingin mengganti NKRI menjadi khilafah atau apapun itu, kita harus lawan bareng-bareng,” tutur ketua pelaksana dialog kebangsaan, Fadil Muhammad Assyifa.

Mahasiswa, generasi muda, TNI-Polri dan seluruh elemen masyarakat lainnya diharapkan bahu-membahu melawan segala upaya memecah-belah dengan mengganti ideologi bangsa. Agar NKRI tetap tegak hingga akhir hayat.

“Kita sebagai mahasiswa merasa penting menjaga kebhinekaan dan menjaga keutuhan NKRI, untuk menjaga rongrongan dari luar itu. Supaya keutuhan NKRI itu tidak hanya sampai 2045, tapi sampai bumi ini kiamat NKRI harus tegak. Enggak hanya aparat yang harus berperan, kita juga sebagai generasi muda harus berperan dalam menjaga dan merawat keutuhan NKRI,” tandas Fadil.