Arti Hari Ibu Bagi Notaris Wanita Indonesia

oleh -
Foto dari kiri ke kanan : Wakil Sekretaris Umum Herna Gunawan, Ketua Umum Yualita Widyadhari, Bendahara Umum Bernadette Wirastuti Puntaraksma serta Kepala Bidang Pendidikan dan Latihan PP INI Yurisa Martanti

Jakarta, nusantarapos.co.id – Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember memiliki arti yang sangat dalam bagi wanita di Indonesia. Terlebih bagi wanita-wanita yang memiliki peran ganda yakni wanita karir dan kodratnya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Tak mudah untuk membagi waktu antara keluarga dengan rutinitasnya di luar. Apalagi ketika wanita tersebut aktif di dalam sebuah organisasi tentu akan membutuhkan waktu extra.

Ditemui disela kesibukannya pada Selasa (18/12/2018) di hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat. Wanita-wanita hebat yang berada di Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI) membagikan pengalamannya menjadi seorang ibu dan juga wanita karir.

Ketua Umum PP INI, Yualita Widyadhari, S.H., M.Kn

Yualita Widyadhari, SH., MKn., Ketua Umum PP INI secara terbuka mengatakan, seorang wanita itu adalah makhluk yang multitasking. Dalam waktu yang hampir bersamaan bisa memikirkan dan mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus.

“Ini sesuatu yang harus kita syukuri bersama. Mulai dari hamil, melahirkan, membesarkan anak, bekerja atau berbisnis, aktif berorganisasi, dan sebagainya,” terangnya.

Karena itu, bagi Yualita, ada Hari Ibu sebagai bentuk apresiasi kepada kaum Ibu yang dengan segala jerih lelahnya mampu mengurus keluarga dengan baik, bahkan tidak sedikit yang berkarir dengan baik.

Dia menjelaskan, salah satu keunggulan para wanita khususnya yang terlibat di PP INI adalah soal komitmen dan kedisiplinan yang tinggi. “Kepengurusan kami hanya 3 tahun. Karena itu, dibalik waktu yang relatif singkat, kami harus berjibaku dengan berbagai program yang mengarah pada anggota. Untuk itu, dibutuhkan pengurus yang bukan saja loyal dan komitmen tinggi dalam mengikuti ritme kerja yang padat,” terang Yualita.

Makna menjadi seorang Ibu, bagi Yualita adalah tanggung jawab dan komitmen. “Kita sudah mewarnai keluarga dengan kasih sayang. Dan itu, akan terbawa dalam masyarakat dan komunitas.

“Pendekatan perempuan dan laki-laki berbeda. Sense of belonging-nya pun berbeda. Perempuan sudah terlatih semenjak mengandung, melahirkan sampai membesarkan anak-anak. Itu latihan yang luar biasa,” ujar Yualita.

Ditambahkannya, ‘latihan’ itu membuat para perempuan ketika tampil di dalam organisasi mampu lebih sabar, ulet, dan telaten. “Banyak positifnya ketika perempuan memimpin sebuah organisasi,” ujar dia.

Tercatat, ada sekitar 7 orang perempuan dalam kepengurusan PP INI sampai level Ketua-ketua bidang.

Kepada rekan-rekan wanita, Yualita mengajak semua untuk benar-benar mampu me-manage waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai, karena pekerjaan keluarga jadi terbengkalai, atau sebaliknya.

Bendahara Umum PP INI, Bernadette Wirastuti Pintakan, S.H., M.Kn

Prioritaskan Keluarga, Tapi Tak Melupakan Organisasi

Sementara itu, Bernadette Wirastuti Puntaraksma, SH., MKn., Bendahara Umum PP INI mengatakan, keseimbangan waktu mutlak dijalankan oleh para perempuan.

Bagi Bernadette, keluarga tetap menjadi prioritas namun juga tak melupakan organisasi. Terlebih di dalam organisasi dirinya dipercaya sebagai Bendum.”Tentu tak mudah menjadi Bendum di sebuah organisasi yang begitu besar ini, dimana saya harus mengakomodir keinginan Ketum demi kemajuan anggotanya,” katanya.

Lanjut Bernadette, menjadi Bendum dibutuhkan sebuah ketelitian dalam mengelola dana yang ada agar bisa bermanfaat bagi semua anggota INI. Untuk itu saya selalu bekerja sebaik mungkin agar semuanya berjalan.

Di suatu waktu Bernadette memang pernah mengalami ada hal-hal di mana di saat yang bersamaan muncul antara urusan anak dengan pekerjaan. “Tentu kita utamakan kepentingan anak. Namun, sepanjang bisa dikomunikasikan pasti ada jalan keluarnya,” tandasnya.

Bernadette juga berharap para wanita bisa memainkan peran besarnya ditengah keluarga, lingkungan, dan organisasi.

Wakil Sekretaris Umum PP INI, Herna Gunawan, S.H., M.Kn

Support Keluarga 

Bagi Herna Gunawan, SH., MKn., Wakil Sekretaris Umum PP INI, kuncinya adalah membagi waktu dalam mengurus suami dan anak-anak. Keluarga sangat mensupport saya untuk menjalani sebuah organisasi, teruma ibu saya yang selalu membantu mengawasi anak-anak ketika sedang sibuk di luar.

Selain support keluarga, bagi Herna disiplin juga menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga.

Jika kita disiplin, lanjut Herna, pasti bisa menemukan formula agar dalam melakukan pekerjaan bisa secepat mungkin. Dengan begitu, masih ada waktu untuk mengurus hal-hal lainnya.

Herna berharap wanita Indonesia bisa lebih tegar dan kuat dalam menjalani multidimensi kehidupan ini.

Ketua Bidang Pendidikan dan Latihan PP INI, Dr. Yurisa Martanti, S.H., M.Kn

Jadi Seorang Ibu Adalah Kodrat mulia

Ketua Bidang Pendidikan dan Latihan PP INi, Dr. Yurisa Martanti, SH. MH., mengatakan menjadi ibu adalah kodrat mulia, sementara karir adalah bentuk apresiasi diri.

“Allah memberikan passion lebih kepada kaum perempuan. Tidak itu saja, perempuan lebih taft daripada pria. Karena itu, sejauh ini karir tidak mengganggu keluarga, begitu juga sebaliknya,” ujar Yurisa.

Dia menambahkan, dalam hidup harus ada keseimbangan (balance). Intinya, menjalani hidup dengan tidak merasa terbeban, enjoysaja.

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga PP INI, Sri Widyawati, SH., Sp.N

Skala prioritas

Menentukan skala prioritas menjadi hal penting sehingga banyak hal bisa dikerjakan sekaligus. Untuk itu, kata Sri Widyawati, SH., Sp.N., Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga PP INI, seorang perempuan harus mampu dalam waktu bersamaan berpikir beberapa hal.

Justru Sri bersyukur menjadi seorang notaris/PPAT karena dari sisi waktu lebih fleksibel.

Foto bersama antara Ketum, Bendum dan Kabid PP INI

Srikandi PP INI Mengagumi Sosok Ketum

Baik Bernadette, Yurisa, Herna, dan Widyawati sepakat melontarkan kekagumannya kepada Yualita. “Banyak hal saya bisa belajar dari beliau,” kata Sri Widyawati dan Herna berbarengan.

Sementara Yurisa mengatakan, tidak ada kata lain selain hebat. Hal senada dikatakan Bernadette, “Ibu Ketum orang yang pemaaf serta penuh pengertian”.