Sirajuddin – Edison Orocomna Siap Bertarung di Pilkada Manokwari 2020

oleh -
Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Manokwari, Sirajuddin - Edison Corocomna berfoto bersama usai menggelar jumpa pers.

Jakarta, NUSANTARAPOS.CO.ID – Pertarungan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di kabupaten Manokwari, Papua Barat akan semakin seru dengan munculnya Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Sirajuddin – Edison Orocomna. Sirajuddin yang berlatarbelakang akademisi akan berpasangan dengan Edison Orocomna yang merupakan seorang politikus syarat pengalaman di sana.

Sirajuddin yang juga Ketua KAHMI Papua Barat itu mengatakan ini adalah sebuah fondasi awal yang menjadi spirit untuk membangun Manokwari. Hal tersebut penting bagi Manokwari untuk membangun sebuah peradaban di Tanah Papua.

“Tanpa nilai-nilai peradaban itu maka orang bisa bebas menggunakan cara-cara yang tidak arif dalam mencapai tujuan tertentu. Maka, di sanalah titik start kita untuk membangun sebuah daerah yang harmonis bagi masyarakat Manokwari, dan Papua pada umumnya,” katanya saat menggelar jumpa pers di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2020).

Lanjut Siraj, hari ini realita sosial yang ada di Manokwari itu sangatlah multikompleks, beragam isu, budaya, agama dan ideologi. Untuk menyelesaikan itu semua, maka dibutuhkan langkah yang kongkrit secara integral agar tidak ada yang merasa terdiskriminasi terutama di dalam kebir pembangunan Manokwari ke depan.

“Adapun langkah-langkah yang akan kami ambil jika masyarakat mempercayakan kami memimpin Manokwari lima tahun kedepan dalam ajang pilkada, untuk memilih calon pemimpin Manokwari yang (lebih) beradap. Pertama, bagaimana pemilihan infrastruktur dasar menjadi jawaban awal untuk memenuhi syarat dasar kebutuhan publik,” ujarnya.

Kemudian, tambah Siraj, wilayah Manokwari juga memiliki aset sumber daya alam yang sangat potensial dan wilayah yang luas. Potensi bidang pertambangan, ada emas, ada semen. Tapi secara teknis, bagaimana sih kita mengelolanya agar hak-hak dasar masyarakat itu tidak terabaikan.

“Jadi untuk menjawab tantangan tersebut persoalannya bukan hanya uang, karena jika mainsetnya selalu demikian maka tidak memiliki nilai edukasi kepada masyarakat. Namun bagaimana mast yang memiliki hak ulayat di dalam wilayah itu bisa mengelola dan mengeksplorasi sumber daya alamnya agar daerah tersebut memiliki pendapatan yang berkesinambungan sampai pada generasi-generasi berikutnya. Bukan dikuasai oleh para investor yang memiliki modal besar, tapi bagaimana menciptakan wilayah itu bersinergi secara positif dan berkelanjutan,” ucapnya.

Siraj menyakini jika itu terlaksana, maka tidak ada lagi masalah pembebasan lahan dibayar cash sekian ratu triliun dan dibayarkan secara putus sehingga akan terjadi masalah baru di kemudian hari. Kita akan melakukan kontrak posititip supaya dapat meningkatkan sumber daya manusia.

“Misalnya, jika ada wilayah yang belum terjadi pembangunan sarana pendidikan, maka disitulah yang harus diambil oleh investor yang bertugas utuh secara moral dan bertanggung jawab dan sesuai dengan wilayah setempat. Jika di wilayah atau distrik itu memiliki sumber daya alam semen maka disitulah dibangun, jangan kita hanya berbicara soal retribusi pajak, itu keliru,” paparnya.

Jika hal tersebut berhasil dilakukan, tambah Siraj, maka akan mengurangi persoalan konflik yang sampai saat ini masih ada. Konflik tersebut cenderung dikarenakan kita belum mampu mengolah dan mengatur resolusi-resolusi apa yang harus kita ambil? “Maka kita jawab kerisauan akan apa yang belum didapatkan oleh masyarakat Papua,” ungkapnya.

Siraj menejelaskan untuk mengikuti kontestasi ini kami tidak merasa disaingi dan tersaingi. Sebab ini hanyalah sebuah media agar kita bisa menawarkan program-program yang baik dan berguna bagi masyarakat Manokwari dan sekitarnya.

“Dan pada akhirnya merekalah yang kemudian mengarahkan pikirannya, simpulan-simpulan untuk memilih kandidat mana yang dipercayakan untuk memimpin Manokwari ke depan,” tutupnya.

Sementara itu,Calon Wakil Bupati Edison Orocomna menegaskan, kehadiran mereka sebagai calon Bupati Wanokwari hanya semata-mata untuk melayani masyarakat.
Kalau Tuhan ijinkan, maka kami ada itu dari hati, tidak ada kepentingan memotivasi kami harus meraih harta kekayaan yang berlimpah seperti lainnya.

“Kami datang untuk melayani masyarakat Manokwari. Tapi sesungguhnya kehadiran kami adalah sebuah panggilan jiwa, hati nurani untuk melayani masyarakat melalui kontestasi demokrasi yang adil dan bermanfaat bagi masyarakat yang akan kami layani,” katanya.

Selain itu, sambung Edison, kehadiran kamipun tidak bermaksud bersaing dengan abang-abang lainnya. Tapi murni kehadiran kami adalah panggilan jiwa, panggilan untuk melayani masyarakat sebagaimana semangat Injil di Tanah Papua.

“Soal Partai Politik, saat ini adalah Partai Golkar, Perindo dan (mungkin) Partai Demokrat. Tidak tertutup kemungkinan partai lain akan ikut mengusung dan mendukung kami,” ungkapnya.